Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi: Perut Mencerna Mi Ramen Kemasan Lebih Lambat

📅 Selasa, 18 Apr 2023, 00:19 WIB | Oleh:
Studi: Perut Mencerna Mi Ramen Kemasan Lebih Lambat Doc: Istimewa
Ket. Hasil rekaman video pil pintar dalam perut yang menunjukkan perbedaan perut dalam mencerna mi ramen olahan (kemasan-kiri) dengan mi segar buatan sendiri.

BOSTON - Sebuah video yang menjadi viral secara online pada 18 Mei 2012, mungkin membuat banyak orang berpikir ulang untuk mengonsumsi mi ramen kemasan sebagai makan malam.

Video tersebut sangat menarik perhatian sehingga telah ditonton lebih dari 1,7 juta kali di YouTube.com hanya dalam beberapa bulan.

Siaran berita News Channel 5 WCVB, Boston melaporkan, dengan empat bungkus seharga 1 dollar AS, mie ramen kemasan menjadi makanan pokok di banyak rumah. Namun hingga saat ini, belum ada yang pernah melihat apa yang terjadi pada makanan ini di dalam perut.

Pembawa acara Heather Unruh, menuturkan,setelah Rumah Sakit Umum Massachusetts menemukan beberapa subjek uji yang mau menelan makanan olahan bersama dengan kamera video kecil, sekarang kita dapat melihat apa yang terjadi pada mi olahan saat dicerna perut.

Direktur Laboratorium Motilitas Gastrointestinal, Rumah Sakit Umum Massachusetts, Braden Kuo, yanv diwawancarai mengatakan, dia terkejut dengan reaksi netizen dan apa yang dia sebut kekhawatiran yang telah ditimbulkan oleh proyek tersebut.

Pil pintar dengan kamera, kira-kira seukuran pil multivitamin besar, telah memberi para peneliti video berdurasi 32 jam tentang proses pencernaan yang belum pernah dilihat sebelumnya dari perut ke ususkecil.

Sebelum uji klinis ini, kamera semacam itu hanya digunakan untuk mempelajari bagian dalam seseorang ketika sedang kosong.

"Video tersebut mengejutkan, menunjukkan perut berkontraksi bolak-balik saat mencoba menggiling mi ramen," kata Kuo, yang merupakan pemimpin studi.

Sebagai perbandingan, pada hari yang berbeda subjek penelitian juga makan mi ramen segar buatan sendiri. Jika dilihat berdampingan, hasilnya sangat berbeda.

"Hal yang paling mencolok tentang percobaan kami adalah ketika Anda melihat pada interval waktu, katakanlah satu atau dua jam, kami melihat mi ramen olahan tidak sehalus mi segar buatan sendiri," katanya.

"Saya menyadari video yang beredar itu provokatif," kata Kuo, tetapi ia menambahkan penelitian ini terlalu awal untuk menyimpulkan apa pun.

Dia dan timnya sedang merencanakan lebih banyak studi penelitian. Kuo berharap tim dapat mengungkapkan apakah proses pencernaan yang lebih lambat (terhadap mie olahan) dapat memengaruhi jumlah nutrisi yang diserap tubuh.

"Banyak hal yang baik dalam jumlah cukup. Saya pikir makanan olahan masih perlu diteliti lebih lanjut," pungkasnya.

Sebagai perbandingan, pada hari yang berbeda subjek penelitian juga makan mi ramen segar buatan sendiri. Jika dilihat berdampingan, hasilnya sangat berbeda. Dalam tayangan video, setelah 2 jam dalam perut, tampak sebagian mi ramen kemasan masih utuh, sedangkan mi segar buatan sendiri sudah dalam keadaan halus.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Daerah
Pemprov Jawa Timur Catat Po...

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.