Selisih Harga Buat Pedagang Bertahan pada Bawang Putih Impor
📅 Rabu, 28 Jan 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA – Kebergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih masih menjadi tantangan serius dalam upaya mewujudkan swasembada nasional. Keterbatasan produksi dalam negeri, rendahnya produktivitas petani, serta belum optimalnya dukungan hulu–hilir membuat pasokan domestik belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi.
Kondisi ini menjadikan stabilitas harga rawan terganggu dan memperbesar risiko ketergantungan pada pasar global, sehingga penguatan produksi lokal dan kebijakan yang konsisten menjadi kunci untuk mengurangi impor secara bertahap.
Anggota Komisi IV DPR RI Riyono menilai besarnya keuntungan dari selisih harga jual dan beli bawang putih impor menjadi menjadi faktor utama tingginya minat pedagang pasar untuk menjual produk impor dibandingkan produk lokal. Dirinya memaparkan hasil kunjungan kerja spesifik ke Kebun Benih Holtikultura Tawangmangu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (22/1).
"Saya bertemu dengan teman-teman asosiasi pedagang pasar seluruh Indonesia, mereka menyampaikan harga bawang putih dari Tiongkok itu seharga 17-20 ribu rupiah per kilogram (kg), tapi begitu masuk ke Indonesia, di pasar harganya bisa 30 ribu rupiah, siapa yang tidak tergiur dengan cuan yang begitu besar, para importir nanti pasti akan ramai," ujar Riyono, Selasa (27/1).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat arus impor bawang putih terus berlanjut, sehingga dia menjelaskan swasembada produk holtikultura terutama bawang putih saat ini menjadi perhatian dari Komisi IV dibuktikan dengan adanya perhatian khusus dalam pembahasan perubahan Undang-Undang Pangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan aspirasi yang masuk dalam kunjungan ke Kebun Benih Holtikultura Tawangmangu ini, Riyono bersama Komisi IV serta para pemangku kepentingan semakin optimis dalam upaya bersama mencapai swasembada produk holtikultura nasional terutama bawang putih. Meski tidak mudah, ia menilai peluang penghentian impor bawang putih dalam beberapa tahun ke depan tetap terbuka.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!