Rayakan Cap Go Meh 2026, Hotel Borobudur Jakarta Hadirkan Ritual Lo Hei
📅 Rabu, 04 Mar 2026, 15:00 WIB | Oleh: Paundra Zakirulloh
Doc: Koran Jakarta/Retno Prayudati
JAKARTA - Hotel Borobudur Jakarta menggelar perayaan Cap Go Meh 2026 sebagai puncak rangkaian Lunar New Year & Ramadan 2026 bertajuk "Discover Timeless Harmony" pada Selasa (3/3/2026). Perayaan ini menghadirkan kolaborasi lintas komunitas serta pertunjukan budaya yang menyedot perhatian tamu dan masyarakat.
Kegiatan tersebut terselenggara melalui kolaborasi bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI), Perhimpunan Tionghoa Kalimantan Barat Indonesia (PTKI), dan Persatuan Spiritual Bekasi. Sinergi ini menjadi simbol penguatan toleransi dan keberagaman budaya dalam bingkai kebangsaan.
Director of Marketing Communication Hotel Borobudur Jakarta, Karina Eva Poetry, mengatakan perayaan Cap Go Meh tahun ini dikemas lebih imersif melalui pengalaman budaya dan kuliner. Ia menegaskan konsep harmoni menjadi benang merah seluruh rangkaian acara.
"Perayaan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk merayakan kebersamaan lintas budaya dalam suasana yang hangat dan inklusif. Kami ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkaya pemahaman budaya bagi para tamu," kata Karina dalam keterangan resminya.
Rangkaian Cap Go Meh Dinner & Entertainment berlangsung di Flores Ballroom mulai pukul 18.00 WIB dengan harga Rp 1.388.000 net per orang. Tamu disuguhkan sembilan set menu pilihan yang memadukan cita rasa autentik dengan presentasi modern.
Sebaiknya Anda baca juga:

Salah satu agenda utama adalah prosesi Yu Sheng melalui ritual "Lo Hei" yang dilakukan bersama sebagai simbol doa kemakmuran dan kelimpahan. Tradisi mengaduk dan mengangkat salad tinggi-tinggi ini menjadi momen interaktif yang mempererat kebersamaan antar peserta.
Selain jamuan makan malam, perayaan juga dimeriahkan Pawai Cap Go Meh Parade & Festival yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIB dari lobi utama menuju Borobudur Backyard. Parade tersebut menampilkan Barongsai, Liong, Fu Lu Shou, Caishen, hingga atraksi Tatung yang identik dengan tradisi Kalimantan Barat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Staf Khusus PTKI, Bunardy Aloyanto, menyebut kehadiran Tatung dalam parade menjadi bentuk pelestarian tradisi yang telah mengakar kuat di masyarakat. Ia menilai perayaan seperti ini penting untuk menjaga kesinambungan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
"Tatung bukan sekadar atraksi, tetapi simbol spiritual dan warisan budaya yang harus dijaga bersama. Melalui parade ini, kami ingin menunjukkan bahwa tradisi dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam keberagaman Indonesia," ujar Bunardy.
Panitia juga menghadirkan penampilan penyanyi Icha Yang yang membawakan lagu-lagu Mandarin serta pertunjukan Bian Lian dengan teknik pergantian wajah cepat yang memukau. Rangkaian acara ditutup dengan berbagai doorprize serta hiburan ramah keluarga yang melibatkan anak-anak dan komunitas.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!