Pertumbuhan Tinggi Tanpa Fondasi Kuat, Ekonomi Rawan Guncangan
📅 Kamis, 19 Feb 2026, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
Pertumbuhan berkualitas sejatinya tercermin dari menyempitnya ketimpangan, menguatnya kelas menengah produktif, meningkatnya resiliensi terhadap guncangan global, serta terjaganya keberlanjutan lingkungan.
JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi yang tinggi berpotensi menjadi sekadar angka ambisius bila tidak ditopang struktur ekonomi yang kokoh. Kebergantungan pada sektor tertentu, lemahnya industrialisasi, serta rendahnya produktivitas berisiko membuat laju pertumbuhan mudah terguncang oleh tekanan eksternal maupun gejolak domestik.
Karena itu, fondasi ekonomi perlu diperkuat melalui diversifikasi sektor, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), hingga reformasi tata kelola. Hal itu menjadi prasyarat utama agar pertumbuhan tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan dan resilien.
Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi memandang obsesi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari lima persen menjadi enam persen berisiko terjebak pada pendekatan yang terlalu makro sentris dan simbolik. "Selisih 1 persen sering dipresentasikan sebagai lompatan signifikan, padahal tanpa perubahan struktur ekonomi, kenaikan tersebut bisa saja hanya memperbesar ketimpangan yang sudah ada," ungkap dia kepada Koran Jakarta, Rabu (18/2).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan selama dekade terakhir pertumbuhan Indonesia berada di kisaran 5 persen. Namun persoalan ketimpangan, dominasi sektor informal, dan ketergantungan pada komoditas belum sepenuhnya teratasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Badiul menilai pertumbuhan ekonomi yang stabil belum tentu meningkatkan kualitas pekerjaan maupun daya beli masyarakat bawah karena struktur ekonomi Indonesia masih bergantung pada konsumsi domestik dan ekspor komoditas mentah. Dia menekankan bahwa tantangan utama bukan sekadar menarik investasi, melainkan memastikan investasi memberi multiplier effect luas melalui penciptaan kerja berkualitas dan peningkatan produktivitas.
Menurutnya, istilah pertumbuhan berkualitas kerap menjadi retorika tanpa indikator jelas. Sementara keberhasilan pembangunan seharusnya diukur lewat transformasi struktural, penguatan manufaktur bernilai tambah tinggi, reformasi agraria, dukungan pembiayaan UMKM, serta pemerataan investasi antardaerah—bukan berhenti pada target angka pertumbuhan semata.
Pertumbuhan berkualitas sejatinya tercermin dari menyempitnya jurang ketimpangan, menguatnya kelas menengah produktif, meningkatnya resiliensi terhadap guncangan global, serta terjaganya keberlanjutan lingkungan. "Jika dimensi dimensi ini tidam dijadikan prioritas, maka kenaikan angka pertumbuhan hanyalah ilusi kemajuan," pungkas Badiul.
Sebaiknya Anda baca juga:
Optimalkan Belanja
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia sudah lepas dari kutukan pertumbuhan ekonomi di level 5 persen. Adapun pada 2025 ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Menkeu mengatakan, pemerintah saat ini memilih fokus untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3 persen serta mengoptimalkan belanja negara untuk mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.
Menurut dia, strategi tersebut telah terbukti efektif. Meski sempat diragukan banyak pihak, kebijakan menjaga defisit di bawah 3 persen justru memberikan ruang bagi pemerintah untuk memanfaatkan anggaran secara lebih optimal.
“Sekarang saya akan fokus di 3 persen dan mengoptimalkan uang yang ada untuk menjaga pertumbuhan yang lebih cepat. Kemarin kan berhasil tuh walaupun banyak orang menertawain tapi kan berhasil kan di bawah 3 persen saya bisa memanfaatkan uang,” ujar Purbaya saat Konferensi Pers Indonesia Economic Outlook akhir pekan lalu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!