Perokok Usia Muda Tingkatkan Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik
📅 Kamis, 30 Mei 2024, 10:24 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
JAKARTA - Data World Health Organization (WHO) menyebutkan, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan penyebab kematian ketiga di seluruh dunia. Pada 12019 sendiri misalnya angka kematian penderitanya mencapai 3,23 juta orang.
PPOK merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyebabnya antara lain karena tingginya pajanan faktor risiko, seperti faktor pejamu atau keadaan manusia yang sedemikian rupa sehingga menjadi faktor risiko untuk terjadinya penyakit, diduga berhubungan dengan kejadian PPOK.
Faktor pejamu dimaksud antara lain meningkatnya perokok pada kelompok usia muda, dan pencemaran udara di dalam maupun di luar ruangan atau di tempat kerja. Selain itu meningkatnya usia harapan hidup adalah menjadi penyebab lainnya.
Dalam pemaparannya dokter spesialis paru dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. dr. Susanthy Djajalaksana, Sp.P(K) menyampaikan, PPOK merupakan penyakit yang umum, dapat dicegah, dan diobati. Peran tenaga medis dalam memberikan diagnosa yang tepat dan lebih dini menjadi penting, sehingga dapat mengurangi perkembangan penyakit dan risiko kondisi yang lebih buruk atau komplikasi pada penderita PPOK.
"Selain itu perawatan dan pemantauan yang berkelanjutan juga sangat penting untuk mengelola gejala dan mencegah komplikasi. Dengan pengelolaan PPOK yang tepat kualitas hidup penderita PPOK akan menjadi lebih baik. Kehadiran produk tiotropium baru diharapkan dapat memperkaya khasanah pengobatan PPOK di Indonesia," ungkapnya melalui keterangan tertulis Selasa (29/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Ia menerangkan, PPOK merupakan salah satu penyakit yang mengganggu pada sistem pernapasan, dimana organ paru-paru mengalami peradangan dalam jangka waktu lama. Kondisi peradangan ini secara klinis ditemukan di sebagian organ paru atau bisa juga seluruhnya.
"Penyakit obstruksi paru yang menahun ini bersifat progresif atau dapat memburuk sejalan dengan waktu. Namun dengan pengobatan yang tepat, penderita penyakit obstruktif menahun dapat terbebas dari gejala dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik," tegasnya.
Ketua Pokja Asma PPOK PDPI dr. Budhi Antariksa, Ph.D, Sp.P(K) memaparkan, penggunaan inhaler dengan kandungan tiotropium bromide menjadi metode medis untuk mengendalikan dan mencegah gejala yang timbul akibat asma dan penyakit PPOK. Tiotropium mampu mengendalikan gejala, bekerja dengan cara merelaksasi dan melebarkan otot pada saluran pernapasan sehingga penderita PPOK dapat bernapas dengan lebih mudah.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tiotropium menjadi pilihan pengobatan yang bermanfaat bagi pasien dengan kondisi pernapasan kronis, telah terbukti secara klinis mampu meningkatkan fungsi paru-paru, mengurangi sesak napas, serta gangguan pernapasan akut. Pemberian obat ini mampu meningkatkan kualitas hidup pasien-pasien PPOK," ucap dr. Budhi
Ia menghimbau kalangan medis untuk menyarankan penderita PPOK menghindari pajanan, seperti polusi udara ataupun asap rokok. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan kian buruknya saluran pernapasan mereka.
Selain penyampaian paparan terkait PPOK, pengendalian dan pencegahan gejala, pada seminar ini diperkenalkan juga tiotropium dengan teknologi ZONDA inhaler dari Actavis Indonesia. Tiotropium sudah menjadi standar utama dalam pengobatan penyakit paru obstruktif dan asma.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!