Penyakit Dobel TB-HIV Percepat Kematian Penderita HIV, Bagaimana Mencegahnya?
📅 Jumat, 01 Des 2023, 14:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/The History of Medicine
Ronny Soviandhi, Universitas Gadjah Mada
Artikel ini untuk memperingati Hari AIDS Sedunia 1 Desember.
Epidemi HIV/AIDS masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang sulit dikendalikan di dunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan secara global pada 2022 ada 39 juta orang hidup dengan HIV, lebih dari dua pertiganya ada di Afrika. Dari jumlah itu, diperkirakan 0,7% diidap oleh orang dewasa produktif berusia 15-49 tahun. Sekitar 630 ribu orang meninggal karena HIV.
Di Indonesia, pada 2020 jumlah orang dengan HIV (ODHIV) berjumlah sekitar 540 ribu orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Data terbaru WHO menyebutkan dalam periode 2010 - 2022, tren jumlah kasus baru infeksi HIV di negeri ini menurun 52% tapi jumlah kematian akibat AIDS naik 60%.
Salah satu penyebab pembunuh utama orang dengan HIV adalah Mycrobacterium tuberculosis, bakteri penyebab penyakit tuberkulosis (TB). Riset menunjukkan ODHIV mempunyai kemungkinan 18 kali lebih berisiko untuk mengalami penyakit TB aktif dibandingkan orang tanpa HIV.
Hubungan HIV dan TB
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2022, secara global sekitar 167 ribu orang meninggal karena TB terkait HIV. Di Indonesia kematian akibat TB-HIV sebesar 6.500 atau 2,4 per 100 ribu penduduk.
Infeksi HIV dan TB merupakan kombinasi yang mematikan, masing-masing mempercepat perkembangan penyakit lainnya. Karena itu, WHO menyatakan TB adalah salah satu penyebab utama kematian pada ODHIV.
Menurut riset, orang yang terinfeksi HIV terlebih dulu lebih memungkinkan selanjutnya terkena infeksi TB. Interaksi HIV dan TBC mempercepat penurunan fungsi imunologi tubuh orang dengan HIV. Infeksi TBC ini juga mempunyai dampak negatif pada respons imun terhadap HIV, dan mempercepat perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS.
Faktor risiko terhadap kematian ko-infeksi (infeksi antara virus dan bakteri secara bersamaan) TB-HIV adalah koinfeksi TB di luar paru (TB menyerang organ lain di luar paru), TB paru, dan riwayat penghentian ARV (obat antiretroviral) pada orang hidup dengan HIV. TB yang menyebar memengaruhi banyak organ, mengakibatkan angka kematian yang tinggi.
Penyakit dobel ini kerap kali sulit diagnosis secara cepat karena gambaran klinis yang tidak spesifik (tanpa batuk) dan hasil sputum (tes bakteri TB di dahak) negatif serta tidak ada kelainan struktur paru saat di rontgen.
Jika cepat didiagnosis, penggunaan obat antituberkulosi (OAT) yang tepat waktu setelah didiagnosis TB dapat meminimalkan proporsi kematian pada pasien koinfeksi HIV-TB.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!