Pengembangan Prediksi Cuaca Mendesak untuk Hadapi Iklim Ekstrem
📅 Senin, 29 Apr 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Indonesia dalam World Water Forum (WWF) atau Forum Air Sedunia akan mendalami, mempelajari, dan mengembangkan pengelolaan prediksi cuaca. Hal itu penting terutama untuk menghadapi iklim ekstrem.
Staf Ahli Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Firdaus Ali, mengatakan melalui forum tersebut diharapkan membantu Indonesia untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem terhadap ketahanan pangan dalam negeri.
Cuaca dan iklim, jelas Firdaus, merupakan fenomena yang dapat diprediksi, berbeda dengan gempa bumi yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi dan seberapa besar kekuatannya.
Sebab itu, dia berharap dengan mengetahui cara mengembangkan dan mengelola data dari prediksi cuaca, Indonesia dapat mengantisipasi iklim ekstrem serta memitigasi dampak yang dirasakan oleh masyarakat.
"Dengan demikian, kita bisa mengantisipasi lebih tepat lagi, lebih baik lagi, di samping kita seharusnya membangun infrastruktur untuk bisa mendukung pengelolaan," kata Firdaus.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam rangka memberi wadah kepada berbagai negara untuk bertukar pikiran, Indonesia mengusulkan pembangunan pusat keunggulan atau praktik terbaik untuk ketahanan air dan iklim atau Centre of Excellence on Water and Climate Resilience (COE).
"Indonesia punya fasilitas. Infrastruktur kita sudah punya, tinggal tadi, kolaborasi internasional, dukungan dari para negara donor," kata Firdaus seperti diberitakan Antara.
El Nino
Sebaiknya Anda baca juga:
Peneliti Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, yang diminta pendapatnya mengatakan WWF harus menjadi titik tolak bagi Indonesia untuk mengelola sumber daya air karena bakal meningkatnya masalah yang mengancam sumber daya air ke depannya
Sebagai gambaran, pada 2023 lalu akumulasi kenaikan suhu sudah terjadi sehingga menyebabkan dampak panas yang lebih terasa dan cukup merata.
"Ke depan, tentu El Nino akan selalu hadir sebagai konsekuensi alamiah pergerakan arus laut dan udara, dari area yang hangat ke area yang lebih dingin. Pada titik tertentu, akan terakumulasi udara dan permukaan air laut yang hangat di Pasifik yang menciptakan lahirnya El Nino, lalu berdampak pada kenaikan suhu dan durasinya tidak dapat diprediksi hanya dapat dimonitor secara sistematis," ungkap Hafidz.
Pengendalian dampak El Nino, katanya, perlu lebih sistematis terutama menajemen kelangkaan air yang bisa berdampak pada produktivitas pertanian dan agroindustri lainnya, kekeringan dan kebutuhan air bersih di area yang watercatchment (daerah tangkapan airnya) minim, seperti pulau-pulau dan daerah perbukitan.
Masalah tersebut sangat mengancam pangan di Indonesia mengingat mayoritas pertanian di Indonesia masih didominasi sawah tadah hujan. Saat El Nino 2023 lalu, hasil produksinya turun drastis, bahkan hilang satu kali musim tanam.
Dia mengimbau perlunya upaya bersama untuk memastikan daerah tangkapan air terpelihara, dan perlu dilakukan proses restorasi lahan kritis untuk memperkuat ketahanan wilayah dari kekeringan sekaligus mencegah potensi kebakaran hutan dan lahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!