Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pemprov Masih Pelajari Pelepasan Wolbachia

📅 Senin, 10 Jun 2024, 01:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Pemprov Masih Pelajari Pelepasan Wolbachia Doc: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa
Ket. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati (kanan) bersama Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati di Jakarta, Minggu (9/6).

JAKARTA - Untuk menekan perkembangan nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta akan melepaskan nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia. Namun, hingga kini Pemprov Jakarta masih mempelajarinya.

"Kami masih persiapan untuk mengimplementasikan pelepasan nyamuk aedes aegypti yang mengandung wolbachia di Jakarta Barat. Makanya, sampai kini belum ada kepastian waktu pelepasan," ujar Kepala Dinas Kesehatan Jakarta, Ani Ruspitawati, Minggu (9/6).

Menurutnya, untuk Jakarta Barat pertama-tama akan dimulai dari Kecamatan Kembangan. Saat ini, belum dimulai, masih persiapan. Jika semuanya siap, termasuk masyarakat, baru akan dilepaskan Wolbachia tersebut.

Wolbachia merupakan bakteri alami di mana 60 persen serangga seperti lalat buah dan lebah. Meskipun Wolbachia tak ditemukan pada nyamuk aedes aegypti, bakteri ini ditransfer ke dalam tubuh nyamuk dan terbukti mengurangi penularan berbagai virus, termasuk demam berdarah.

Merujuk Kementerian Kesehatan, Wolbachia dalam tubuh nyamuk aedes aegypti bisa menurunkan replikasi virus dengue. Dengan begitu, dapat mengurangi kemampuan nyamuk tersebut sebagai penular demam berdarah.

Ani menegaskan, pelepasan nyamuk aedes aegypti mengandung Wolbachia menjadi salah satu upaya mengendalikan angka kasus DBD. Tentu masih terus dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang telah dilakukan Pemprov Jakarta.

Adapun kasus DBD Jakarta, menurutnya, tercatat sebanyak 2.900 kasus Mei lalu. Ani lalu mengimbau masyarakat untuk ikut serta menjaga lingkungan sekitar. Salah satunya dengan memeriksa berkala jentik nyamuk atau tempat perkembangbiakan nyamuk.

"Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Ini untuk memastikan bahwa lingkungan tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk aedes aeygpti," tandasnya. Adapun mengenai upaya pengendalian dan pencegahan DBD, Pemprov membantah akan langsung menerapkan sanksi berupa denda 50 juta bagi warga yang rumahnya kedapatan jentik nyamuk aedes aegypti.

"Itu kan aturannya. Imbauannya supaya masyarakat juga peduli untuk mengatasi demam berdarah. Ini kewajiban seorang warga di lingkungan rumah masing-masing untuk menjaga tetap sehat," kata Penjabat Gubernur Jakarta Heru Budi Hartono.

Peraturan Daerah Jakarta Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pengendalian Penyakit Demam Berdarah Dengue dinyatakan bahwa sanksi pada warga yang melanggar ketentuan PSN 3M Plus dan warga yang tempat tinggalnya ditemukan ada jentik nyamuk aedes aegypti, sifatnya bertahap.

Sanksi dimulai dari teguran tertulis, kemudian teguran tertulis diikuti pemberitahuan melalui penempelan stiker di pintu rumah. Baru denda paling banyak 50 juta atau pidana kurungan dua bulan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemprov DKI gelar program o...
Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.