Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menambang Oksigen dari Debu Bulan untuk Kehidupan Luar Angkasa

📅 Rabu, 25 Feb 2026, 06:52 WIB | Oleh:
Menambang Oksigen dari Debu Bulan untuk Kehidupan Luar Angkasa Doc: ESA–A. Conigili
Ket. Peneliti ESA Alexandre Meurisse dan Beth Lomax dari Universitas Glasgow memproduksi oksigen dan logam dari debu bulan simulasi di dalam Laboratorium Material dan Komponen Listrik ESA.

SELAMA puluhan tahun, tantangan terbesar manusia untuk benar-benar menetap di luar angkasa bukanlah sekadar soal teknologi roket atau keberanian astronot, melainkan persoalan logistik yang nyaris tak terhindarkan: ketergantungan mutlak pada “tali pusar” dari Bumi.

Setiap misi berawak selalu dibayangi oleh satu kenyataan mahal semua kebutuhan dasar kehidupan, mulai dari air, makanan, hingga oksigen, harus diangkut dari permukaan Bumi dengan roket. Setiap kilogram muatan berarti biaya tambahan jutaan dolar. Setiap liter oksigen yang dihirup astronot adalah hasil pembakaran bahan bakar dalam jumlah besar di landasan peluncuran.

Namun memasuki awal 2026, paradigma lama itu mulai bergeser secara fundamental. Para ilmuwan tidak lagi sekadar berpikir bagaimana membawa lebih banyak suplai dari Bumi, tetapi bagaimana memproduksi kebutuhan vital itu langsung di lokasi tujuan. Dalam konteks Bulan, fokus utamanya adalah oksigen. Alih-alih membawa udara ke Bulan, para peneliti kini tengah “memasaknya” langsung dari tanah Bulan itu sendiri.

Dari Musuh Menjadi ­Sumber Kehidupan

Permukaan Bulan diselimuti oleh regolit—lapisan debu halus hasil tumbukan meteorit selama miliaran tahun. Regolit terkenal sebagai material yang tajam, abrasif, dan sangat lengket karena bermuatan statis. Pada era misi Apollo, debu ini menjadi mimpi buruk para astronot karena menempel di pakaian, menyusup ke peralatan, dan berpotensi merusak sistem mekanis.

Namun di balik reputasinya yang buruk, regolit ternyata menyimpan potensi luar biasa. Secara kimiawi, sekitar 40% hingga 45% dari berat regolit terdiri atas oksigen. Ini bukan oksigen bebas dalam bentuk gas (O₂), melainkan oksigen yang terikat kuat dalam struktur mineral oksida seperti silikon dioksida (silika), besi oksida, magnesium oksida, dan aluminium oksida.

Dengan kata lain, tanah Bulan sebenarnya adalah “tambang oksigen” raksasa. Tantangannya adalah bagaimana melepaskan oksigen itu dari ikatan kimianya yang sangat stabil. Di sinilah konsep In-Situ Resource Utilization (ISRU) memainkan peran kunci. ISRU adalah pendekatan pemanfaatan sumber daya lokal di luar angkasa untuk mendukung misi eksplorasi jangka panjang, sehingga ketergantungan pada suplai dari Bumi dapat ditekan seminimal mungkin.

Elektrolisis Garam Cair

Salah satu metode paling menjanjikan yang kini diuji secara intensif dalam berbagai proyek kolaborasi internasional—termasuk oleh NASA dan European Space Agency—adalah elektrolisis garam cair (molten salt electrolysis).

Prinsipnya sederhana dalam teori, tetapi kompleks dalam praktik. Regolit Bulan dicampur dengan garam kalsium klorida yang berfungsi sebagai elektrolit. Campuran ini kemudian dipanaskan hingga suhu ekstrem, di atas 950 derajat Celsius, sampai mencapai fase cair. Dalam kondisi ini, arus listrik dialirkan melalui campuran tersebut.

Ketika listrik mengalir, terjadi reaksi elektrokimia yang memisahkan oksigen dari senyawa oksidanya. Atom-atom oksigen bermigrasi menuju anoda (kutub positif), di mana mereka bergabung membentuk molekul O₂ yang kemudian dapat dikumpulkan dan disimpan. Proses ini secara harfiah mengubah debu Bulan menjadi udara yang dapat dihirup.

Yang membuat metode ini semakin revolusioner adalah produk sampingannya. Setelah oksigen diekstraksi, material yang tersisa bukanlah limbah tak berguna, melainkan logam-logam murni seperti besi, aluminium, dan titanium dalam bentuk serbuk. Material ini berpotensi digunakan sebagai bahan baku konstruksi habitat, landasan peluncuran, hingga suku cadang kendaraan—termasuk melalui teknologi pencetakan 3D.

Dengan satu proses tunggal, manusia bisa memperoleh dua hal vital sekaligus: oksigen untuk kehidupan dan logam untuk membangun peradaban mini di luar Bumi.

Bulan sebagai Stasiun Pengisian Bahan Bakar

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

38 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
Daerah
Bus Transjateng Akan Tambah...

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

1.5 jam yang lalu | Lili Lestari

Nasional
Wakil Menteri Imipas Silmy ...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.