Membangun dari Desa, Kunci Memperkuat Perekonomian Nasional
📅 Selasa, 22 Jul 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto pada Senin (21/7) meresmikan 80.081 Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih secara serentak, yang dipusatkan di Wonosari, Klaten, Jawa Tengah.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan dalam kesempatan itu mengatakan peluncuran koperasi desa dalam jumlah besar itu sebagai tonggak sejarah baru bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Lebih lanjut Menko Pangan mengatakan kehadiran Koperasi Merah Putih menjadi bagian dari implementasi gagasan besar Presiden Prabowo untuk memperkuat ekonomi nasional dengan membangun dari desa.
Prabowo jelasnya ingin Indonesia tidak bergantung pada impor pangan, terutama saat menghadapi ketidakpastian global. Sebaliknya, Indonesia harus berdaulat dalam pangan, air, dan energi. Arahan itu kemudian diterjemahkan ke dalam kebijakan pangan. Salah satunya lewat penguatan ekosistem pertanian desa melalui koperasi sebagai lembaga ekonomi rakyat.
“Berkali-kali beliau sampaikan dan yang paling penting kita harus memberdayakan petani kita sendiri, berdikari, melalui sistem yang adil dan berkelanjutan,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Koperasi tidak hanya untuk produksi dan distribusi, tetapi juga memotong rantai pasok, menghapus tengkulak dan rentenir, sekaligus memberdayakan petani, nelayan, dan pelaku ekonomi desa.
“Sekali lagi, pemberdayaan petani, nelayan, serta pelaku ekonomi desa dengan prinsip gotong royong dan kekeluargaan, ekonomi kerakyatan yang berkali-kali disampaikan oleh Bapak Presiden,” katanya.
Bernilai Tinggi
Sebaiknya Anda baca juga:
Menanggapi kehadiran Koperasi Merah Putih itu, Peneliti dari Centre of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian berharap agar model bisnisnya tidak hanya fokus pada penyediaan barang konsumsi pokok, tetapi harus mengembangkan produk bernilai tinggi agar bisa mencapai keuntungan maksimal hingga satu miliar rupiah per tahun.
Dia mengatakan dengan model bisnis Koperasi Desa Merah Putih yang akan dijalankan, seperti agen LPG, agen beras, dan pupuk, lebih menyerupai ritel modern atau minimarket desa, dengan mengandalkan volume penjualan tinggi dengan margin keuntungan yang relatif rendah.
“Kalau skalanya masih level desa, keuntungan satu miliar rupiah per tahun masih belum bisa tercapai. Kecuali jika lini bisnisnya itu membuat produk baru yang bernilai tambah tinggi,” kata Eliza.
Misalnya, koperasi mengolah singkong menjadi tepung singkong atau singkong beku, atau mengolah cabai menjadi cabai bubuk/pasta/chili oil.
“Ini pasarnya lebih luas, bisa ke luar daerah bahkan ekspor sehingga memungkinkan keuntungan besar,” katanya.
Pasokan produk untuk Koperasi Desa Merah Putih nantinya langsung dari produsennya, seperti Pertamina, Bulog, dan Pupuk Indonesia. Dia mengakui, kalau koperasi memang efektif memangkas rantai distribusi hingga 2-3 lapis, yang berpotensi mengurangi biaya hingga 15-20 persen dari margin yang selama ini dinikmati perantara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!