Mapala UI Susuri Gunung Patah, Menikmati Kekayaan Alam dan Budaya Adat Setempat
📅 Rabu, 24 Sep 2025, 22:33 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Mapala UI
BENGKULU - Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) menyusuri Hutan Lindung Raja Mendara, Gunung Patah, Bengkulu untuk menikmati kekayaan alam dan budaya adat setempat selama 13 hari.
“Selain ekologinya yang kaya, cerita adat yang diwariskan dan dijaga turun-temurun oleh masyarakat setempat juga menjadi daya tarik yang unik. Kombinasi inilah yang menjadikan Mapala UI memilih Gunung Patah sebagai sasaran eksplorasi pada program SHI 2025,” kata Ketua Mapala UI Aldes Alfarizi dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (24/9).
Melalui program Satria Hutan Indonesia (SHI) bertema “Kenali Hutan, Jaga Kehidupan”, sebanyak 24 calon anggota dan 18 anggota Mapala UI mengikuti rangkaian acara pendakian di gunung berapi nonaktif setinggi 2.853 meter di atas permukaan laut itu.
Kekayaan akan alam di sekitar daerah itu dapat terlihat dari kawasan Gunung Patah yang masih tertutup alami oleh rimbunnya pepohonan. Dengan tutupan vegetasi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan setidaknya ada lebih dari 100 jenis tumbuhan yang tumbuh di gunung.
Rute pendakian melintasi perbatasan provinsi, berangkat dari Desa Manau Sembilan II, Provinsi Bengkulu dan turun melalui jalur Kance Diwe di Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Destinasi yang pertama dikunjungi adalah Desa Manau Sembilan untuk melakukan sebuah ritual yang dianggap dapat menjaga dan menyimpan ikatan dengan leluhur.
Sehari sebelum tim menjejakkan kaki di hutan, tim diajak untuk berziarah ke makam Puyang, tokoh yang dipercaya sebagai penyebar agama islam di sekitar Desa Manau Sembilan. Prosesi ini dilakukan sebagai penghormatan dan permohonan restu.
Para peserta memanjatkan doa hingga menyalakan kemenyan sebagai pengantar langkah perjalanan.
Berikutnya tim bergerak pada tanggal 5 Agustus 2025 dalam jalur dengan panjang kurang lebih 45 kilometer menuju puncak dengan estimasi normal memakan waktu 8 sampai 10 hari perjalanan. Peserta menikmati rimbunnya hutan lengkap dengan keindahan Burung Rangkong.
Tim juga bertemu dengan tulang belulang, struktur, ukuran, serta rupa yang bentuknya mengindikasikan temuan itu adalah tulang tulang gajah.
Adapun destinasi lain yang dikunjungi dalam rute pendakian yakni hutan lumut di ketinggian 2.500 mdpl, yang sebelumnya didominasi oleh hutan tropis berangsur mulai berubah.
Pohon-pohon besar mulai jarang, digantikan oleh pepohonan yang relatif lebih kecil dan seluruh permukaannya tertutup lumut tebal. Tim juga berkunjung ke Danau Tumutan Tujuh, yang dipercaya sebagai sumber mata air 7 sungai di kawasan Hutan Lindung Raja Mendara.
Sebelum menyentuh puncak, beberapa peserta juga mengunjungi Kawah Purba-cekungan besar yang ditengahnya terhampar air berwarna hijau pucat dan berkabut.
Aldes mengaku dalam perjalanan kembali melalui jalur Desa Manau Sembilan, logistik mulai menipis setelah melakukan 11 hari perjalanan sehingga tim memutuskan untuk turun melalui jalur alternatif Kance Diwe di Pagar Alam, Sumatera Selatan dan keluar dari hutan pada 17 Agustus 2025. Ant
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!