Lonjakan Pencari Kerja Menuju Jakarta, Pentingnya Antisipasi Pengangguran dan Wilayah Kumuh
📅 Kamis, 20 Jun 2024, 13:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Wulandari Wulandari
Pinto Buana Putra, Universitas Gadjah Mada
Setiap tahun, permasalahan kenaikan arus perpindahan penduduk usia produktif menuju ibu kota sering kali menjadi fenomena yang mengundang berbagai respons.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jakarta menunjukkan fenomena tersebut. Sebabnya, perkembangan dan pembangunan masif masih menjadi magnet bagi para pencari kerja dari berbagai daerah, menarik ribuan orang untuk mencoba peruntungan di pusat ekonomi dan pemerintahan ini.
Kenaikan ini menunjukkan pentingnya persiapan dan reaksi yang efektif dari berbagai pihak untuk memastikan transisi ini membawa manfaat optimal bagi semua.
Data terakhir dari Dashboard Statistik Kependudukan DKI Jakarta menunjukkan adanya peningkatan signifikan pendatang dari luar DKI sekitar hampir lebih 8000 orang terhitung semenjak lebaran 2024 hingga sekarang yang mengurus administrasi kependudukan untuk menjadi warga resmi Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Musim liburan seperti lebaran umumnya memang menjadi momentun urbanisasi tiap tahunnya, dengan pendatang yang mencari peruntungan selama Ramadan memutuskan untuk tinggal serta dipicu arus balik dari desa ke kota selama musim mudik. Jajak pendapat Litbang Kompas pada 25-29 Maret 2024 mengenai topik seputar Lebaran menunjukkan bahwa 25,2% responden mengatakan berencana mengajak saudara atau kerabat keluarga untuk ikut ke kota tempat tinggal mereka.
Arus urbanisasi ini menegaskan kebutuhan akan strategi yang matang dalam mengelola arus masuk penduduk baru.
Tantangan dalam Menghadapi Lonjakan Calon Pekerja
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya tingkat pendidikan di kalangan pendatang. Data yang masih dihimpun dari Dashboard Statistik Kependudukan Dukcapil DKI Jakarta menunjukan bahwa dari 8000-an pendatang yang terekam, hampir sekitar 84,11% yang pendidikan akhirnya hanya sebatas SMA/SMK. Fenomena ini perlu mendapat perhatian khusus karena aspek pendidikan menjadi variabel penting dalam menentukan keberhasilan seseorang mendapatkan lapangan pekerjaan.
W. Arthur Lewis, ekonom asal Amerika Serikat (AS) peraih Nobel Memorial Prize, membahas perpindahan penduduk berpendidikan minim ke daerah ibu kota melaui Teori Migrasi Dual-Sektor. Teori tersebut diterbitkan dalam karya ilmiah berjudul Economic Development with Unlimited Supplies of Labour (Pembangunan Ekonomi dengan Pasokan Tenaga Kerja tak Terbatas).
Teori yang dikembangkan pada 1954 ini memberikan kerangka kerja yang komprehensif untuk memahami dampak migrasi dari daerah pedesaan ke perkotaan, khususnya dalam konteks negara berkembang. Inti dari teori ini adalah pembagian ekonomi menjadi dua sektor utama: sektor tradisional atau pedesaan, dan sektor modern atau perkotaan.
Dalam sektor pedesaan tradisional, produksi pertanian atau pekerjaan yang kurang produktif mendominasi. Tenaga kerja di sektor ini sering kali berlimpah dan kurang dimanfaatkan secara optimal, dengan tingkat produktivitas yang rendah.
Sebaliknya, sektor modern atau perkotaan terdiri dari industri modern dan jasa dengan tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Sektor ini menawarkan peluang pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang lebih tinggi, menarik tenaga kerja dari sektor pedesaan.
Menurut Lewis, perpindahan penduduk dari sektor tradisional ke sektor modern adalah hal yang tak terelakkan seiring dengan proses pembangunan ekonomi, terutama di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!