KSEI Catat Ratusan Dividen, Pasar Utang Tetap Jadi Raja
📅 Senin, 11 Agu 2025, 23:37 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
JAKARTA – PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan, hingga 8 Agustus 2025 telah menangani 4.727 aksi korporasi, di antaranya 391 berupa pembagian dividen. Angka ini seakan menjadi indikator bahwa sebagian investor masih menikmati buah investasi mereka.
Namun, porsi terbesar justru datang dari pembayaran bunga obligasi yang mencapai 2.534 kali—sebuah sinyal bahwa pasar utang masih menjadi magnet utama bagi pelaku pasar, bahkan melampaui euforia dividen saham.
Disusul bagi hasil sebanyak 914 kali, pelunasan pokok 380 kali, dan kategori lain 508 kali, data ini mengungkap fakta menarik: mesin penggerak pasar modal Indonesia bukan hanya laba perusahaan, tapi juga aliran kewajiban utang yang harus terus dibayar.
Di satu sisi, tingginya aktivitas pembayaran bunga bisa dibaca sebagai bukti kedewasaan instrumen pasar modal. Tapi di sisi lain, dominasi pasar utang atas pembagian dividen memunculkan pertanyaan tajam—apakah perusahaan di Indonesia lebih sibuk membayar bunga kepada kreditur ketimbang membagi keuntungan kepada pemegang saham? Jika iya, inilah cermin bahwa pasar modal kita masih bertumpu pada utang, bukan profitabilitas berkelanjutan.
“Tahun 2024 ada 6.976 (frekuensi tindakan korporasi). Artinya kalau setengah tahun sudah sekitar 4.700-an, maka di tahun 2025 diperkirakan KSEI akan melayani lebih dari apa yang terjadi di tahun 2024,” kata Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat dalam konferensi pers HUT ke-48 Pasar Modal Indonesia di BEI, Jakarta, Senin (11/8).
Sebaiknya Anda baca juga:
KSEI mencatat, nilai distribusi seluruh tindakan korporasi mencapai Rp407 triliun. Nilai tindakan korporasi untuk saham tercatat Rp230,9 triliun, sedangkan untuk efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) mencapai Rp176,4 triliun yang telah didistribusikan hingga 8 Agustus 2025.
Berdasarkan sektor, KSEI mencatat lima sektor saham dengan distribusi terbesar antara lain sektor financials-banks sebesar Rp68,46 triliun, energy and coal production Rp26,74 triliun, infrastructures-integrated telecommunication service Rp17,48 triliun, industrials-multi-sektor holdings Rp7,65 triliun, serta infrastructures-wireless telecommunication service Rp7,44 triliun.
Sementara lima sektor EBUS dengan distribusi terbesar antara lain sektor financials-consumer financing sebesar Rp23,23 triliun, financials-banks Rp17,87 triliun, financials-specialize business financing Rp14,42 triliun, basic materials-paper Rp10,56 triliun, serta industri pulp and paper Rp6,94 triliun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai informasi, jumlah investor pasar modal berdasarkan Single Investor Identification (SID) tercatat 17,59 juta investor sampai dengan 8 Agustus 2025. Jumlah tersebut bertambah 2,7 juta investor atau tumbuh sebesar 18 persen secara year to date (ytd).
Berdasarkan jumlah tersebut, investor saham dan surat berharga lainnya berjumlah 7,5 juta (meningkat 17 persen), reksa dana 16,6 juta (meningkat 18 persen), dan investor Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak 1,3 juta (meningkat 9 persen).
Berdasarkan komposisi kepemilikan aset oleh individu dan institusi, investor institusi mendominasi nilai aset dengan porsi mencapai 79,04 persen.
Sedangkan untuk komposisi aset lokal-asing, aset yang dimiliki investor lokal tercatat sebesar 62,19 persen. Nilai aset yang tercatat di C-BEST mencapai Rp8.927 triliun. Sementara itu, nilai asset under management di S-INVEST tercatat sebesar Rp836,87 triliun.
Adapun berdasarkan sebaran investor domestik, KSEI mencatat bahwa pulau Jawa masih menjadi wilayah dengan jumlah investor dan nilai aset terbesar. Meski begitu, potensi pengembangan pasar modal di wilayah lain di Indonesia sangat terbuka lebar.
Sepanjang tahun 2025, aset investor di berbagai daerah seperti Sumatra, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur menunjukkan tren peningkatan. Menyadari hal ini, KSEI bersama SRO dan OJK terus berkomitmen memperluas edukasi serta mendorong inklusi keuangan hingga ke pelosok negeri.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!