Kisah di Balik Genderang ‘Moko’, Alat Musik Sakral dari Kepulauan Alor-Pantar
📅 Jumat, 02 Mei 2025, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation
Francesco Perono Cacciafoco, Xi'an Jiaotong-Liverpool University
Hari masih pagi ketika sekelompok orang Abui menari dalam lingkaran di sekitar ‘maasang’—altar utama desa. Mereka bergantian melakukan gerakan yang selaras dengan jeda ritmis. Bunyi gendang yang mengiringi setiap langkah diyakini menghubungkan dunia manusia dengan para dewa.
Mereka sedang membawakan tarian ‘lego-lego’—bagian tak terpisahkan dari ritual leluhur. Gerakan tari mereka dipandu oleh irama dari genderang ‘Moko’, alat musik khas yang dianggap benda pusaka dan alat suci. Genderang ini sebagian besar ditemukan di Kepulauan Alor-Pantar, di Nusa Tenggara Timur.
Bersama Shiyue Wu, asisten riset saya di Xi’an Jiaotong-Liverpool University (Suzhou, Jiangsu, Tiongkok), saya mengembangkan dan menerbitkan penelitian tentang nama-nama genderang ‘Moko’ dan gong perunggu dari Alor dalam tiga bahasa lokal Papua yang digunakan di pulau tersebut, yaitu: Abui (Alor Tengah), Sawila (Alor Timur), dan Kula (Alor Timur).
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kita tentang genderang Moko dan makna serta kesuciannya bagi identitas dan warisan budaya masyarakat yang tinggal di kepulauan Alor-Pantar.
Referensi sejarah yang kabur
Di antara banyak tradisi leluhur dan benda ritual di Indonesia Tenggara, genderang ‘Moko’ mewakili perpaduan unik antara nilai simbolis dan religius serta fungsi praktis dalam kehidupan sosial masyarakat Papua setempat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara teknis, genderang ‘Moko’ adalah timpani—khususnya membranofon—yang menghasilkan bunyi melalui getaran kulit atau selaput yang dipukul.
Alat musik ini digunakan secara luas dan mengakar kuat di kalangan masyarakat adat Alor, Pantar, dan sekitarnya—termasuk di Timor, dan kelompok Austronesian serta Papua di Flores, Kendati demikian, sejarah dan asal usul alat musik ini masih samar.
‘Gong perunggu’ dari kepulauan Alor-Pantar umumnya berbentuk cakram logam pipih bundar dan dimainkan dengan palu. Alat ini memiliki fungsi musikal dan sosial yang sebanding dengan genderang ‘Moko’.
Masyarakat setempat percaya bahwa genderang dan gong tersebut bukan buatan lokal, melainkan hasil produksi dari lokasi asal yang belum diketahui. Ini terkonfirmasi dalam percakapan kami dengan konsultan lokal Abui.
Atribut unik drum ‘Moko’
Setiap genderang ‘Moko’ (dan gong perunggu) memiliki ciri khas—baik dari segi ukuran, bentuk, bunyi maupun hiasan atau dekorasinya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!