Kehadiran Vinfast Tandai Kekuatan Baru Industri EV Global
📅 Rabu, 12 Nov 2025, 17:16 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/Suryanto
JAKARTA - Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu mengatakan kehadiran produsen mobil Vietnam, Vinfast, menandai babak baru dalam industri otomotif global, sebagai kekuatan baru Asia Tenggara.
"Selama beberapa dekade, pasar otomotif Indonesia dan Asia Tenggara didominasi oleh produsen Jepang dan Korea. Kehadiran VinFast menandai babak baru yang menimbulkan pertanyaan penting: “Asia Tenggara – kenapa tidak?” kata Yannes di sela kunjungannya ke pabrik Vinfast di Hai Phong, Vietnam, beberapa hari lalu (3-7 November 2025).
Sebagai merek otomotif Asean pertama yang berekspansi secara global di sektor kendaraan listrik, VinFast membawa makna simbolis yang kuat.
“Ini menunjukkan bahwa kawasan ini kini memiliki kapasitas teknologi, finansial, dan sumber daya manusia untuk bersaing secara setara,” kata dia.
“VinFast bisa bangkit sebagai pembawa standar baru di ASEAN – simbol nyata dari kreativitas tanpa batas, kepercayaan diri yang kuat, dan strategi jangka panjang untuk memimpin menuju era industri hijau.”
Sebaiknya Anda baca juga:
Di Indonesia, VinFast mulai dikenal luas melalui armada “taksi hijau” yang menggunakan kendaraan listrik VinFast. “Hal ini menunjukkan konsistensi visi perusahaan dalam menghadirkan mobilitas listrik yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat,” tambah Yannes.
Lebih lanjut, Yannes melihat bahwa arah pengembangan Vingroup sejalan dengan agenda nasional Indonesia. “Pemerintah Indonesia tengah mendorong mobilitas listrik, energi bersih, dan pengembangan SDM untuk industri 4.0. Arah Vingroup sangat selaras dengan prioritas tersebut."
Indonesia saat ini memiliki kebijakan Super Tax Deduction, yang memungkinkan perusahaan yang bekerja sama dengan universitas dalam kegiatan R&D atau pelatihan memperoleh potongan pajak hingga 300 persen dari nilai investasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selama kunjungannya, Yannes juga terkesan dengan VinUniversity (VinUni). “Sebagai dosen ITB dan peneliti senior di National Center for Sustainable Transport Technology (NCSTT) —konsorsium yang mendukung pemerintah dalam pengembangan kebijakan transportasi berkelanjutan — saya sangat tertarik dengan visi Vingroup yang progresif dan berpusat pada manusia,” katanya.
“Jika Vingroup melalui VinUni dapat berkolaborasi dengan universitas-universitas Indonesia seperti ITB untuk melatih insinyur dan melakukan riset bersama, hasilnya bukan sekadar kemitraan, tetapi jembatan antara dua ekosistem inovasi,” lanjutnya.
Kolaborasi seperti itu, menurut Yannes, akan mempercepat pengembangan SDM, transfer teknologi, dan inovasi kebijakan di tingkat ASEAN. Dunia usaha mendapat keuntungan strategis dan insentif pajak, sementara Indonesia memperoleh pengetahuan, talenta, serta teknologi hijau baru yang mampu mendorong rantai nilai energi bersih regional untuk beberapa dekade mendatang.
Indonesia pasar potensial
Menurut Yannes, Indonesia bukan hanya pasar potensial, tetapi bisa menjadi “rumah kedua” bagi Vingroup.
“Dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, termasuk 60 juta konsumen muda yang melek teknologi, Indonesia adalah pasar ideal untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan,” jelasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!