Kebanyakan Orang Indonesia Ternyata Mager, sehingga Stroke dan Jantungan. Kamu Bagaimana ?
📅 Kamis, 18 Sep 2025, 14:37 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Meski tampak di mana-mana banyak orang berolahraga, ternyata itu tidak seberapa jumlahnya. Sebab mayoritas orang Indonesia itu mager alias malas gerak, sehingga menyebabkan sakit secara fisik. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan bahwa masalah kesehatan yang paling banyak ditemukan dari peserta program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), khususnya kategori usia dewasa adalah kekurangan aktivitas fisik.
“Kaum usia dewasa masalah utama adalah kurang gerak fisik,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, dalam konferensi pers yang bersama Badan Komunikasi Pemerintah di Jakarta, Kamis. Diketahui, intensitas aktivitas fisik yang kurang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, dan obesitas.
Selain itu, kurangnya aktivitas fisik juga berdampak pada kebugaran fisik dan mental, seperti otot lemah, tulang rapuh, metabolisme melambat, peningkatan stres, kualitas tidur buruk, dan tubuh mudah lelah. "Kebiasaan beraktivitas fisik itu harus kita bangun kembali, karena 95 persen aktivitas fisik masyarakat Indonesia kurang," ujar dia.
Kemudian, masalah kesehatan lainnya yang banyak ditemukan dalam program PKG di kategori dewasa adalah penyakit gigi, lingkar perut, obesitas, dan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Maria mengungkapkan sejumlah masalah kesehatan yang ditemukan dari peserta PKG kategori lainnya, di antaranya adalah pada kategori lansia.
Dalam kategori tersebut, masalah kesehatan yang banyak ditemukan adalah aktivitas fisik yang kurang, masalah gigi, hipertensi, lingkar perut, dan gangguan kognitif yang merupakan penurunan fungsi otak berkaitan dengan cara berpikir, nalar, memproses informasi, mengingat, atau memecahkan masalah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada kategori bayi baru lahir, masalah kesehatan yang banyak ditemukan adalah berat badan saat lahir yang rendah, kelainan saluran empedu, penyakit jantung bawaan kritis, hipotiroid kongenital atau kelainan akibat kekurangan hormon tiroid, dan defisiensi enzim G6PD atau kelainan genetik seumur hidup yang menyebabkan tubuh kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) yang penting untuk melindungi sel darah merah.
Kemudian, sejumlah masalah kesehatan yang ditemukan dalam PKG pada kategori usia balita dan anak prasekolah adalah penyakit gigi, stunting, gizi kurang, anemia, dan perkembangan yang tidak normal. Untuk mengatasi beragam masalah kesehatan itu, Maria mengingatkan masyarakat untuk mulai rajin berolahraga, mengurangi makanan atau minuman yang manis, terlalu asin dan berlemak, hingga rajin menggosok gigi untuk menghindari penyakit gigi.
Sementara penyakit yang membutuhkan penanganan, seperti hipertensi, pemerintah akan menyediakan obat yang sesuai. "Kalau sudah terdeteksi, tadi kita lihat beberapa sudah terdeteksi, termasuk hipertensi. Pasti dikasih obat pada saat itu. Dikasih obat itu untuk mencegah supaya nanti tidak makin parah," ujar dia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!