Kawah Ijen, Keunikan Alam Negeri Blambangan yang Tiada Duanya
📅 Sabtu, 08 Apr 2023, 06:15 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Antara Jatim/Budi Candra Setya
Banyuwangi masih menjadi destinasi yang populer bagi wisatawan lokal dan mancanegara. Salah satu alasan mereka memilih Banyuwangi adalah karena ingin melihat Kawah Ijen yang unik.
Kabupaten Banyuwangi saat ini menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Kekayaan alam dan budaya yang dimiliki, menjadikan banyak orang memilih kabupaten bekas Kerajaan Blambangan untuk mengisi liburan dengan penuh kesan.
Pada 2022 tingkat kunjungan wisatawan ke Banyuwangi mencapai 2,9 wisatawan. Seiring melandainya angka penularan Covid-19 tahun ini diharapkan wisatawan yang datang keSunrise of Javabisa meningkat menjadi 3,5 juta orang pada 2023 ini.
Banyak orang berbondong-bondong ke Banyuwangi karena memang kaya tempat wisata. Perpaduan pegunungan, lautan, dan budaya Osing yang kuat dan unik, adalah magnet bagi mereka. Untuk wisata pegunungan Kawah Ijen masih menjadi pilihan favorit terutama generasi muda.
Kawah Ijen berada di puncak Gunung Ijen yang berada di kawasan Cagar Alam Taman Wisata Ijen di Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Banyuwangi. Jaraknya dari pusat kota Banyuwangi sejauh 35,6 kilometer ke arah barat laut dengan waktu tempuh sekitar 1 jam 10 menit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Gunung tipe strato tersebut dengan status aktif dengan peristiwa letusan terakhir terjadi pada 1999. Sementara itu, ketinggian puncaknya mencapai 2.386 meter di atas permukaan laut (mdpl), dengan ketinggian kawah 2.145 mdpl.
Dalam sejarah geologinya, Kawah Ijen berada di dalam kaldera ijen yang luas. Pembentukan Kawah Ijen diperkirakan terjadi pada 700.000 tahun lalu. Saat itu ketinggian Gunung Ijen pernah mencapai 3.500 mdpl lalu menyusut karena letusan. Pembentukan Gunung Ijen purba ditandai oleh pengendapan lapisan satuan batuan kerucut lapis pra kaldera.
Kerucut lapis itu tersusun oleh perlapisan endapan-endapan aliran piroklastik, aliran lava, dan jatuhan piroklastik dari letusan super eksplosif. Erupsi ini melontarkan hingga sekitar 466 kilometer material vulkanik yang dominan menuju arah utara.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut para peneliti, erupsi eksplosif ini kemudian membuat dapur magma kosong dan mengakibatkan terjadinya amblesan sehingga membentuk depresi kaldera. Kaldera Ijen kemudian terisi oleh air dan menjadi danau dan mengendapkan erosi material vulkanik. Proses ini terjadi pada kira-kira 60.000-50.000 tahun yang lalu.
Rekahan tektonik ini kemudian tererosi, membobol dinding kaldera, dan menjadi jalur Air Terjun Blawan dan Sungai Banyupahit, sekaligus membuat danau purba di Kaldera Ijen mengering. Luasnya mencapai 220 kilometer persegi, dengan diameter 15-20 kilometer.
Pasca erupsi eksplosif Gunung Api Ijen Purba, kemudian terbentuklah kaldera itu lantas muncul beberapa gunung api, dengan jumlah mencapai 22 gunung api yang tersebar di dinding (cincin) kaldera dan dalam kaldera yang sudah mengering.
Beberapa gunung api yang di dinding kaldera yakni Gunung Merapi, Suket, Jampit, Ringgih, Pawenan, serta Rante. Sementara yang di dalam kaldera diantaranya gunung Kawah Wurung, Blau, Papak, Kukusan, serta Ijen dan lainnya.
Namun gunung api tersebut telah mati kecuali Kawah Ijen. Yang tersisa hanyalah keindahan dan eksotisme alam yang berada di kawasan Kaldera Ijen yang luasnya.
Tidak seperti beberapa kawah di beberapa gunung yang ada Jawa Timur, Kawah Ijen berupa danau dengan luas 5.466 hektare dengan diameter sekitar 700 meter dengan kedalaman mencapai 175 meter. Wisatawan dapat turun di dasar kawah untuk melihat pemandangan sekitar danau jika aktivitas vulkanik dalam keadaan normal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!