Kampung Merabu, Eksotika Pegunungan Kapur di Kabupaten Berau
📅 Sabtu, 19 Agu 2023, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Wikimedia
Kampung Merabu kini menjadi destinasi ekowisata di Berau. Pemandangan yang menawan di kampung ini berupa alam hutan di kawasan pegunungan kapur yang eksotis.
Bagi pecinta wisata alam, Kampung Merabu di Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, jangan sampai terlewatkan. Kampung ini berada pada jarak 130 kilometer dari Tanjung Redeb, ibu kota kabupaten, dengan lama perjalanan dengan roda empat sekitar 3 jam perjalanan.
Luas Kampung Merabu mencapai 22.000 hektare. Kampung ini berbatasan dengan Kampung Panaan di utara, Kampung Merapun di barat dan timur, dan Kabupaten Kutai Timur di selatan. Jumlah penduduknya sekitar 200 orang atau sekitar 55 kepala keluarga.
Kampung Merabu terdiri atas kawasan hutan lindung 10.800 hektare, hutan produksi 12.200 hektare, dan kawasan karst yang mencapai 7.500 hektare. Dengan potensi tersebut, Kampung Merabu telah memperoleh izin dari Kementerian Kehutanan pada Januari 2014, yakni pengelolaan hutan desa mencapai 8.245 hektare.
Uniknya di Kampung Merabu wisatawan akan melihat kombinasi hutan dan pegunungan kapur atau karst dengan lingkungan yang masih alami. Pegunungan karst ini secara teoritis dulunya berada di dalam lautan. Karena tenaga endogen wilayah ini terangkat ke permukaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tempat ini menawarkan suasana alam hutan, pegunungan karst, gua purbakala, dan sungai-sungai kecil yang jernih karena pengaruh kandungan kapur. Danau Nyadeng misalnya memiliki air berwarna hijau toska yang jernih, juga sejuk yang berasal dari pegunungan karst itu.
Kampung Merabu yang berada jauh dari pantai, dikelilingi oleh kawasan pegunungan karst. Kontur pegunungan ini memiliki banyak bukit-bukit berbentuk kerucut. Warna putih dinding-dinding pegunungan kapur berpadu dengan pemandangan yang hijau hutan adalah pemandangan alam yang ditawarkan.
Seperti di pegunungan karst lain, di Kampung Merabu terdapat sejumlah gua-gua yang menarik untuk dimasuki. Salah satunya adalah Gua Beloyot yang menyimpan peninggalan sejarah purbakala, berupa gambar telapak tangan yang diperkirakan berusia lebih dari 4.000 tahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kampung Merabu dihuni oleh etnis Dayak Lebok. Mereka tidak bisa dipisahkan dengan kawasan hutan dan pegunungan karst yang telah lama menjadi tempat menggantungkan hidupnya. Oleh karenanya mereka telah menyadari akan pentingnya kelestarian tempatnya berpijak.
Salah satu penghasilan masyarakat diperoleh dari memanen madu di hutan hutan. Sebelum ekowisata mulai dikenal, Kampung Merabu sudah lama dikenal sebagai penghasil madu hutan yang memiliki kualitas tinggi.
Nenek moyang mereka yaitu suku Dayak Lebok mengajarkan pengolahan pasca-panen madu yang tidak bersentuhan langsung dengan tangan. Sarang lebah diiris pisau panjang dan madu ditiriskan dengan mengandalkan gravitasi bukan diperas dengan tangan sehingga awet hingga bertahun-tahun.
Panen madu tidak dilakukan setiap waktu atau hanya setahun sekali saat pepohonan di hutan berbunga. Dari panen itu. Panen yang dihasilkan mencapai 3.000 liter. Jumlah ini langsung ludes diserbu pembeli dari Tanjung Redeb.
Destinasi Ekowisata
Meski tidak musim madu, kampung Merabu bukan berarti tidak banyak orang yang datang. Dengan motto "Asyik" akronim dari aman, sehat, indah, dan kreatif, tempat ini telah menjadi destinasi ekowisata di Berau dan Kalimantan Timur umumnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!