Kadin Dorong Badan Komoditas di Papua Tengah, Sinyal Perang terhadap Tengkulak
📅 Kamis, 26 Feb 2026, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara.
NABIRE – Perlindungan terhadap petani dari praktik tengkulak menjadi isu krusial dalam menjaga stabilitas pendapatan sektor pertanian.
Dalam banyak kasus, ketergantungan petani pada pembiayaan informal dan akses pasar yang terbatas membuat posisi tawar mereka lemah, sehingga harga jual hasil panen kerap ditekan jauh di bawah harga wajar.
Secara analitis, persoalan ini bukan semata soal rantai distribusi, tetapi juga menyangkut struktur pasar yang timpang.
Minimnya akses terhadap pembiayaan formal, informasi harga, serta infrastruktur penyimpanan dan logistik mempersempit pilihan petani selain menjual cepat kepada perantara. Akibatnya, margin keuntungan lebih banyak terserap di level distribusi, bukan di tingkat produsen.
Upaya perlindungan perlu diarahkan pada penguatan kelembagaan petani, perluasan akses kredit, transparansi harga berbasis digital, serta pengembangan skema kemitraan yang adil.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan demikian, petani tidak hanya terlindungi dari praktik spekulatif, tetapi juga memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam rantai pasok pertanian nasional.
Kamar Dagang Indonesia (Kadin) mengusulkan Pemerintah Provinsi Papua Tengah membentuk badan komoditas untuk melindungi petani dari aksi para tengkulak.
Direktur Eksekutif Kadin Pusat Pipin Moh. Saeful Arifin di Nabire, Kamis (26/2), mengatakan badan komoditas haruslah berada langsung di gubernur untuk mengatur tata niaga komoditas unggulan daerah dari hulu hingga hilir.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kami berharap Kadin Papua Tengah bersama pemerintah provinsi bisa merumuskan badan komoditas yang melindungi tanah dan tanaman kehidupan masyarakat. Jangan sampai yang mengatur harga dari petani justru tengkulak, bukan pemerintah,” katanya.
Ia mengatakan, keberadaan badan komoditas diharapkan mampu mengawasi seluruh ekosistem pertanian mulai dari pra-penanaman, perawatan, panen hingga pemasaran sehingga petani tidak lagi bergantung pada tengkulak.
Menurut dia, pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan komoditas unggulan memiliki kualitas baik, namun harga di tingkat petani tetap rendah karena rantai distribusi dikuasai perantara. Padahal setelah diolah dan dipasarkan, nilai produk dapat meningkat berkali lipat.
Ia mencontohkan komoditas kopi yang setelah proses pengolahan dapat bernilai tinggi di pasar, sementara petani hanya menerima sebagian kecil harga jual.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu diperbaiki melalui intervensi kebijakan pemerintah agar tercipta keadilan perdagangan.
“Kalau tata niaga diatur pemerintah dari hulu sampai hilir, petani tidak terjebak permainan harga pasar bebas dan kesejahteraan mereka bisa meningkat,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!