Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Jakarta, Menang Melawan Laut atau Kalah oleh Waktu

📅 Sabtu, 06 Sep 2025, 06:15 WIB | Oleh:
Jakarta, Menang Melawan Laut atau Kalah oleh Waktu Doc: Dok Istimewa
Ket. Peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Anto Prabowo

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan rencana tanggul laut ini mulai diinisiasi sejak tahun 1995,  saatnya sekarang diniatkan dengan bentuk badan otorita khusus, jam terus berdetak. Jika tak ada tindakan nyata, sebagian Jakarta akan tenggelam. Waktu tak lagi berpihak.

Giant Sea Wall (GSW) menawarkan harapan: dari kota rapuh menjadi kota global tangguh yang bisa jadi warisan generasi mendatang. Sementara jam terus berdetak. Jika tak ada tindakan nyata, sebagian Jakarta akan tenggelam. Waktu tak lagi berpihak.

Hal ini disampaikan Peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Universitas Insan Pembangunan Indonesia (UNIPI), Anto Prabowo dalam acara The 2025 Sebelas Maret International Conference on Digital Economy (SMICDE) di Swiss-belhotel Solo, (4/9).

"Penelitian ini mengkaji inovasi keuangan dalam mendukung realisasi Jakarta Great Sea Wall (Giant Sea Wall/GSW), sebuah proyek infrastruktur bernilai lebih dari USD 40 miliar yang bertujuan melindungi Jakarta dari ancaman banjir rob, penurunan tanah, dan kenaikan muka laut," kata Anto dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Ia juga menjelaskan GSW merupakan bagian dari National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) dan dirancang sebagai sistem adaptasi iklim terpadu, mencakup pembangunan tembok laut utama dan pertahanan banjir darat, reklamasi pesisir berskala besar, perbaikan sistem drainase perkotaan, rehabilitasi ekosistem mangrove, dan penciptaan ruang publik biru ramah lingkungan.

Dengan target perlindungan hingga tahun 2100, GSW akan berfungsi bukan hanya sebagai benteng iklim, tetapi juga sebagai motor pembangunan ekonomi melalui penciptaan kawasan hunian, bisnis, dan logistik baru di balik tembok laut.

"Pemerintah menegaskan bahwa GSW dibangun dengan prinsip ecological justice, melindungi hak masyarakat pesisir melalui relokasi berbasis hak, kompensasi adil, serta dukungan mata pencaharian baru," tambah Anto.

Selain itu, integrasi rehabilitasi mangrove dan ruang publik biru menjadikan proyek ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) dan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim).

Sebagai proyek adaptasi iklim terbesar di Indonesia, GSW mengusung model pembiayaan hibrida dengan instrumen inovatif yaitu Asset Value Protection (AVP) yang berfungsi bagi perlindungan nilai aset untuk menarik investor institusional, Viability Gap Funding (VGF): dimana dalam hal ini berupa dukungan APBN untuk komponen sosial dan non-komersial.

Selanjutnya Green Sukuk yaitu obligasi syariah hijau untuk mendanai proyek adaptasi. Lalu, Asset-Backed Securities (ABS) yang merupakan sekuritisasi pendapatan dari reklamasi dan infrastruktur pendukung. Struktur ini memungkinkan mobilisasi modal swasta tanpa membebani fiskal negara, sekaligus menjaga keberlanjutan jangka panjang proyek.

Adapun estimasi biaya Giant Sea Wall mencapai US$ 40-42 miliar (hanya mencakup Jakarta saja). Angka sebesar itu mustahil ditanggung APBN sepenuhnya, mengingat prioritas lain pada pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur nasional.

"Solusinya adalah pembiayaan campuran (blended finance), memadukan dana publik, swasta, dan investor global melalui instrumen keuangan inovatif," seru dia.

Dia menambahkan proyek multidimensi ini bisa berhasil dengan tata kelola kolaboratif. Katanya Giant Sea Wall tidak bisa hanya mengandalkan APBN. Inovasi keuangan seperti Green Sukuk, Asset Value Protection, dan ABS menjadikan proyek ini bankable sekaligus inklusif.

"Namun, tanpa kolaborasi kuat antara pemerintah, swasta, dan regulator, investor tidak akan masuk. Transparansi, tata kelola ESG, dan safeguards sosial-lingkungan adalah syarat mutlak agar proyek ini tidak hanya besar, tetapi juga adil," jelas Anto.

Jika berhasil, GSW akan menjadi model adaptasi iklim global yang memadukan2025 perlindungan aset fisik, transformasi sosial-ekonomi, pelestarian ekologi, dan inovasi pembiayaan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.