Ibu di Tengah Zaman Baru
📅 Senin, 22 Des 2025, 16:15 WIB | Oleh: Sujar
Doc: ANTARA/Sizuka
MATARAM -- Hari Ibu kerap hadir sebagai seremoni tahunan yang penuh bunga, ucapan terima kasih, dan nostalgia tentang sosok perempuan di dalam rumah.
Namun, di balik perayaan itu, realitas keibuan hari ini bergerak jauh lebih kompleks. Ibu tidak lagi hanya berdiri di dapur atau ruang keluarga, tetapi juga berada di garis depan persoalan sosial, pendidikan, kesehatan, hingga perlindungan anak.
Berbagai laporan menunjukkan bahwa Hari Ibu kini relevan dibaca sebagai cermin perubahan zaman, sekaligus alarm tentang pekerjaan rumah yang belum selesai.
Di satu sisi, negara dan masyarakat terus mendorong penguatan peran perempuan dan ibu dalam pembangunan. Di sisi lain, muncul persoalan serius yang justru terjadi di ruang paling privat, yakni keluarga.
Kasus pencabutan kekuasaan orang tua akibat kekerasan seksual terhadap anak di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) misalnya, menjadi penanda bahwa keibuan dan kebapakan tidak bisa lagi dipahami semata-mata sebagai status biologis, melainkan tanggung jawab moral dan sosial yang harus dijaga bersama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hari Ibu, dalam konteks kekinian, bukan sekadar tentang penghormatan, tetapi tentang keberanian menata ulang makna peran orang tua di tengah tantangan zaman digital, krisis pengasuhan, dan tuntutan pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Ruang aman
Ruang keluarga idealnya menjadi tempat paling aman bagi anak. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kasus di Lombok Tengah, ketika negara melalui kejaksaan harus mengajukan gugatan pencabutan kekuasaan orang tua karena kejahatan seksual terhadap anak kandung, menjadi peristiwa yang mengguncang kesadaran publik.
Negara dipaksa masuk ke ruang paling privat karena fungsi perlindungan gagal dijalankan.
Peristiwa ini bukan hanya soal hukum, tetapi soal krisis pengasuhan. Anak yang seharusnya tumbuh dalam lindungan kasih justru menjadi korban kekerasan.
Dalam perspektif Hari Ibu, kasus ini mengingatkan bahwa keibuan bukanlah peran simbolik, melainkan fondasi utama ketahanan sosial. Ketika fondasi ini rapuh, dampaknya tidak hanya pada satu keluarga, tetapi pada masa depan generasi.
Di sisi lain, pemerintah daerah dan berbagai lembaga terus mendorong penguatan peran orang tua dalam menciptakan ruang bahagia bagi anak.
Imbauan agar keluarga menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan memahami psikologi anak usia dini menegaskan bahwa kebahagiaan anak bukan perkara sepele. Ia berkaitan langsung dengan tumbuhnya rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, dan kesehatan mental.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!