Fresh Graduate Senyum, Program Magang Nasional Disebut Jadi Game Changer, Tapi Masih Sisakan Permasalahan
📅 Kamis, 02 Okt 2025, 17:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Istimewa.
JAKARTA – Program magang nasional bergaji buat fresh graduate ini bisa dibilang angin segar di tengah problem pengangguran terdidik yang masih tinggi.
Dengan adanya skema ini, lulusan perguruan tinggi punya kesempatan buat dapat pengalaman kerja nyata sekaligus penghasilan, jadi nggak sekadar nambah daftar pencari kerja.
Dari sisi perusahaan juga untung, karena bisa menjaring talenta muda tanpa langsung terikat kontrak jangka panjang.
Tapi, tantangannya ada di soal pemerataan—apakah program ini bisa menjangkau kampus di daerah atau hanya terkonsentrasi di kota besar. Kalau nggak diantisipasi, ketimpangan bisa makin lebar.
Program ini potensial jadi jembatan masuk dunia kerja, tapi butuh eksekusi yang inklusif biar manfaatnya nggak berhenti di segelintir kelompok.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pakar Hukum Universitas Airlangga (Unair) Profesor Hadi Subhan mengatakan, kehadiran program magang nasional memberikan banyak manfaat, terutama dalam meningkatkan kompetensi lulusan baru serta memperkuat link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
"Sangat bagus program magang nasional. Manfaatnya banyak, untuk meningkatkan kompetensi pemagang, link and match, mengurangi salah satu masalah pengangguran," kata Hadi di Jakarta, Kamis (2/10).
Diketahui, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia tercatat mencapai 4,76 persen. Hal ini menunjukkan sekitar 7,28 juta orang tidak bekerja dari total angkatan kerja 153,05 juta orang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, Hadi mengakui program magang dari pemerintah itu berpotensi mendorong urbanisasi karena sebagian besar lokasi magang akan terkonsentrasi di kota besar, terutama di sektor industri manufaktur.
"Karena tempat magang banyak industri di kota maka tidak bisa dihindari terkait urbanisasi sebagai 'harga' yang harus dibayar. Tapi manfaatnya jauh lebih besar dibanding masalah urbanisasi tersebut," tuturnya.
Sementara, Pengamat Ketenagakerjaan Profesor Payaman Simanjuntak menekankan pentingnya tindak lanjut perusahaan terhadap peserta magang setelah program berakhir.
Ia berharap, perusahaan tempat magang dapat langsung menerima peserta magang menjadi karyawannya. Kemudian peserta yang tidak tertampung dapat disalurkan ke perusahaan mikro dan kecil yang sulit menyelenggarakan program magang.
Payaman memandang program magang dapat menjadi salah satu solusi untuk menyediakan tenaga terlatih sekaligus mengurangi pengangguran. Namun, ia mengingatkan jumlah perusahaan yang mampu menyelenggarakan magang masih terbatas dan cenderung terkonsentrasi di sektor industri.
"Pemerintah mendorong usaha menengah dan usaha besar mengikuti program pemagangan. Karena jumlahnya sangat kecil, jadi hanya sedikit peserta magang yang tertampung, pada umumnya terpusat di sentra-sentra industri," tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!