Energi Listrik dari Oksigen Tubuh untuk Alat Pacu Jantung
📅 Jumat, 05 Apr 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: University of Connecticut and Maher El-Kady/UCLA
Salah satu tantangan dalam implan peralatan medis contohnya alat pacu jantung hingga neurostimulator adalah pasokan energi listrik yang tersedia terus menerus. Untuk mengatasi tantangan ini, para peneliti telah merancang baterai implan yang menggunakan oksigen dalam tubuh.
Studi ini menunjukkan bahwa pada tikus desain, pembuktian konsep dapat menghasilkan tenaga yang stabil dan kompatibel dengan sistem biologis.
Peralatan medis yang ditanam di dalam tubuh atau implan seperti alat pacu jantung hingga neurostimulator, mengandalkan baterai untuk menjaga jantung tetap berdetak dan mengurangi rasa sakit. Ketika baterai pada akhirnya akan habis, maka memerlukan operasi invasif untuk menggantinya.
Untuk mengatasi tantangan ini, para peneliti di Tiongkok merancang baterai implan yang menggunakan oksigen dalam tubuh. Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 27 Maret di jurnal Chem, menunjukkan bahwa pada tikus desain, pembuktian konsep dapat menghasilkan tenaga yang stabil dan kompatibel dengan sistem biologis.
"Jika dipikir-pikir, oksigen adalah sumber kehidupan kita," kata penulis koresponden Xizheng Liu, yang berspesialisasi dalam bahan dan perangkat energi di Universitas Teknologi Tianjin, dikutip dari Science Daily.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jika kita dapat memanfaatkan pasokan oksigen secara terus-menerus dalam tubuh, masa pakai baterai tidak akan dibatasi oleh keterbatasan bahan dalam baterai konvensional," imbuh dia.
Untuk membuat baterai yang aman dan efisien, para peneliti membuat elektrodanya dari paduan berbasis natrium dan emas berpori nano. Bahan ini memiliki ukuran pori-pori ribuan kali lebih kecil dari lebar sehelai rambut.
Emas telah dikenal karena kompatibilitasnya dengan sistem kehidupan, dan natrium merupakan elemen penting dan ada di mana-mana dalam tubuh manusia. Elektroda mengalami reaksi kimia dengan oksigen dalam tubuh untuk menghasilkan listrik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk melindungi baterai, para peneliti membungkusnya dalam film polimer berpori yang lembut dan fleksibel. Mereka kemudian menanamkan baterai di bawah kulit punggung tikus dan mengukur keluaran listriknya.
Dua pekan kemudian, mereka menemukan bahwa baterai dapat menghasilkan tegangan stabil antara 1,3 V dan 1,4 V, dengan kepadatan daya maksimum 2,6 µW/cm2 atau mikro watt per sentimeter kubik. Meskipun keluarannya tidak cukup untuk memberi daya pada peralatan medis, desainnya menunjukkan bahwa memanfaatkan oksigen dalam tubuh untuk menghasilkan energi adalah mungkin.
Tim juga mengevaluasi reaksi peradangan, perubahan metabolisme, dan regenerasi jaringan di sekitar baterai. Dalam uji coba pada tikus mendapatkan hal positif, hewan ini tidak menunjukkan peradangan yang jelas.
Produk sampingan dari reaksi kimia baterai, termasuk ion natrium, ion hidroksida, dan hidrogen peroksida tingkat rendah, mudah dimetabolisme oleh tubuh dan tidak mempengaruhi ginjal dan hati. Tikus-tikus tersebut sembuh dengan baik setelah implantasi, dan rambut di punggung mereka tumbuh kembali setelah empat pekan.
Regenerasi
Yang mengejutkan para peneliti, pembuluh darah tikus yang berada di sekitar baterai juga mengalami regenerasi atau mengalami perbaikan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!