Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Drama Politik Belanda Memanas, Mulai Dari Tuduhan Genosida hingga Penyalahgunaan AI

📅 Rabu, 29 Okt 2025, 18:30 WIB | Oleh:
Drama Politik Belanda Memanas,  Mulai Dari Tuduhan Genosida hingga Penyalahgunaan AI Doc: AFP

JAKARTA – Pemilih di Belanda kembali menuju tempat pemungutan suara setelah melalui masa kampanye yang penuh ketegangan, pertikaian, dan sentimen kebencian. Pertarungan politik kali ini kembali didominasi oleh figur sayap kanan kontroversial, Geert Wilders, yang memimpin Partai Kebebasan (PVV).

Partai PVV sempat meraih kemenangan dalam pemilu 2023, namun Wilders gagal membentuk pemerintahan karena tidak ada partai lain yang bersedia bekerja sama dengannya. Ia pun hanya bisa menonton dari luar lingkaran kekuasaan, sembari terus melontarkan kritik tajam terhadap pemerintahan yang kala itu sempat memberikan lima kursi kabinet kepada PVV.

Pemerintahan hasil koalisi itu akhirnya hanya mampu bertahan selama hampir satu tahun. Wilders menarik menteri-menterinya keluar dari kabinet pada Juni lalu, yang kemudian memicu kejatuhan pemerintahan dan membuka jalan bagi pemilu baru tahun ini.

Menjelang pemungutan suara, berbagai lembaga survei menunjukkan PVV masih berpotensi memenangi pemilu. Namun, keunggulannya kali ini tampak menurun, dengan selisih suara yang makin tipis dibanding partai-partai sayap kanan-tengah maupun kiri.

Kontroversi semakin memanas awal pekan ini setelah dua anggota parlemen PVV ketahuan menyebarkan selebaran bergambar Frans Timmermans—pemimpin partai Hijau-Kiri sekaligus mantan Komisaris Eropa—yang tampak sedang ditangkap polisi. Belakangan diketahui, gambar tersebut palsu dan merupakan hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Wilders pun akhirnya mengeluarkan permintaan maaf yang jarang dilakukannya. Ia menyebut tindakan dua anggotanya sebagai kesalahan besar yang tidak mencerminkan sikap resmi partai. Meski demikian, insiden itu sudah terlanjur memperburuk citra PVV di mata sebagian pemilih.

Baik Wilders maupun Timmermans kini menjadi dua tokoh paling dominan dalam lanskap politik Belanda. Keduanya saling menyerang melalui debat publik di parlemen, media sosial, dan siaran televisi nasional, memanaskan suasana politik menjelang hari pemungutan suara.

Meski Wilders meminta maaf atas penyebaran gambar palsu, Timmermans sendiri juga tidak lepas dari sorotan. Ia menolak mengutuk aksi kelompok pro-Palestina yang menuduh Wilders dan sejumlah politisi kanan lainnya mendukung genosida terhadap warga Gaza.

Dalam salah satu debat terakhir sebelum pemungutan suara, Timmermans kembali menegaskan pandangannya terhadap kebijakan luar negeri Wilders. “Anda membela Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sementara ia menghancurkan Gaza,” katanya dalam perdebatan panas yang disiarkan televisi nasional.

“Dengan itu, Anda membenarkan genosida,” lanjut Timmermans yang disambut riuh penonton di studio.

Pertukaran serangan tersebut menggambarkan polarisasi tajam yang masih membayangi politik Belanda, di mana isu Palestina dan kebijakan migrasi menjadi titik perpecahan utama. Namun, di sisi lain, semakin banyak pemilih yang mulai merasa jenuh dengan pertikaian politik tanpa solusi ini.

Dalam sebulan terakhir, muncul sosok alternatif dari kubu kanan-tengah, Henri Bontenbal, pemimpin Partai Kristen Demokrat (CDA). Ia dikenal sebagai figur yang lebih tenang dan tidak terjebak dalam politik ekstrem, sehingga menarik perhatian pemilih moderat yang lelah dengan retorika keras Wilders dan Timmermans.

Namun, momentum Bontenbal mulai melemah setelah ia tersandung pernyataan yang dinilai bernuansa homofobik pada pekan lalu. Kesalahan itu dinilai publik sebagai pukulan telak bagi citra “bersih” yang selama ini ia bangun menjelang pemilu.

Pemilu kali ini menjadi ujian bagi masa depan politik Belanda yang kini terbelah antara populisme kanan, progresivisme kiri, dan kelompok moderat yang berusaha menawarkan jalan tengah. Dengan meningkatnya kejenuhan publik terhadap politik konfrontatif, hasil akhir pemilihan akan menunjukkan apakah pemilih Belanda masih menginginkan sosok keras seperti Wilders, atau justru menginginkan politik yang lebih tenang dan solutif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
Nasional
PT KAI Tutup 116 Perlintasa...
Megapolitan
Wali Kota Bogor Aktivasi Mu...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.