Disiapkan Insentif untuk Menahan DHE Lebih Lama
📅 Rabu, 15 Feb 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Bank Indonesia - LitbangKJ/and - KJ/ONES
» Tren nilai tukar rupiah masih fluktuatif dengan kecenderungan melemah.
» DHE bisa dimanfaatkan bank untuk salurkan kredit valas ke sektor riil.
JAKARTA - Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan insentif menggiurkan agar para eksportir tertarik menempatkan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di bank-bank dalam negeri. Dengan penempatan DHE tersebut diharapkan akan memperkuat cadangan devisa dan suplai valuta asing (valas) sehingga bisa meredam tekanan terhadap rupiah jika sewaktu-waktu terjadi arus modal keluar atau capital outflow.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam sebuah webinar di Jakarta, Selasa (14/2), mengatakan DHE yang ditahan selama tiga bulan bisa menghasilkan cadangan devisa hingga 50 miliar dollar AS dalam setahun.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jadi, devisa hasil ekspor diwajibkan ditahan tiga bulan di Indonesia, yang ditahan sekitar 30 persen. Dari situ, angka hitungan kami menunjukkan kita bisa menyimpan dalam satu tahun sekitar 40 sampai 50 miliar dollar AS," kata Airlangga.
Kebijakan serupa, jelasnya, sudah diterapkan Malaysia, Thailand, dan Turki yang menahan DHE di dalam negerinya bahkan hingga satu tahun, atau ditukar ke mata uang lokal.
"Pemerintah melalui Kementerian Keuangan, BI, dan OJK sedang memproses insentif sehingga fasilitas penyimpanan valuta asing yang diberikan oleh Indonesia sama dengan Singapura," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan kebijakan itu, ia berharap perbankan dapat memiliki devisa yang cukup untuk menopang pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo pada tahun ini.
"Pemerintah juga perlu mengantisipasi cadangan devisa karena inflasi Amerika Serikat pada tahun ini belum terkendali sehingga ada potensi mereka kembali menaikkan tingkat suku bunga acuan," katanya.
Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga, Surabaya, Wasiaturrahma, memperkirakan kenaikan suku bunga AS akan berakhir di 5,1 persen tahun ini karena ruang untuk the Fed menaikkan suku bunga tidak selapang seperti sebelumnya.
"Walaupun AS masih tetap hawkish, tapi tidak ada lagi ruang yang cukup bagi the Fed untuk menaikkan suku bunganya lagi, yang mungkin berakhir di 5,1 persen tahun ini dan tertahan hingga inflasi turun menjadi 2 persen," kata Wasiaturrahma.
Diminta terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, Yohanes B Suhartoko, mengatakan kenaikan suku bunga acuan the Fed akan meningkatkan daya tarik surat berharga AS sehingga memicu terjadinya capital outflow.
"Dampaknya akan menurunkan penawaran dollar AS di Indonesia. Usaha untuk mengembalikan DHE yang selama ini cukup banyak disimpan di bank-bank luar negeri akan mengurangi penawaran dollar AS juga," ungkap Suhartoko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!