Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Dana Asing Terus Keluar dari 'Emerging Countries'

📅 Kamis, 01 Sep 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Dana Asing Terus Keluar dari 'Emerging Countries' Doc: ISTIMEWA
Ket. ESTHER SRI ASTUTI Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip Semarang

» Indonesia beruntung karena exposure kepemilikan asing di obligasi negara berkurang selama pandemi.

» Pemerintah seharusnya lebih fokus menarik investasi sektor riil ketimbang portofolio.

JAKARTA - Modal asing yang keluar (capital outflow) dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sepanjang tahun ini, tepatnya hingga 26 Agustus 2022, sudah mencapai 126,85 triliun rupiah. Keluarnya modal asing dari pasar keuangan itu sebagai dampak pengetatan likuiditas melalui kenaikan suku bunga di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, di Jakarta, Rabu (31/8), mengatakan dengan pengetatan likuiditas dan kenaikan suku bunga menyebabkan Indonesia dan emerging countries lain terkena imbasnya.

Kendati demikian, Indonesia pada 2021 dan 2022 masih beruntung karena pemerintah berhasil menurunkan exposure kepemilikan asing dalam governement bonds yang sebelum pandemi mencapai 38,5 persen menjadi 15,34 persen.

"Pada 26 Agustus 2022, foreign holders kita di 15,34 persen. Artinya, meski terjadi movement capital outflow yang mencapai 126,85 triliun rupiah, tapi dampak terhadap yield menjadi lebih bisa dikelola," jelas Menkeu.

Hal itu tidak terlepas dari koordinasi pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) yang terus menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN) sehingga kinerjanya relatif stabil.

Menkeu mengatakan kinerja SBN dalam periode bergejolak saat ini relatif dalam situasi yang baik dibanding negara lain seperti AS yang yield US treasury-nya melonjak lebih dari 100 persen.

Indonesia secara year to date (ytd) juga mengalami kenaikan dari bonds 10 tahun di 12,4 persen, sedangkan Filipina 28,7 persen dan Meksiko 17,5 persen.

"Ini adalah suatu yang harus kita jaga karena berhubungan dengan cost of fund dari pembiayaan kita," tegasnya.

Sebelum pandemi Covid-19, tepatnya pada 2019 lalu, emerging countries sempat menikmati capital inflow sekitar 70 miliar dollar AS, sedangkan pada 2022 terjadi capital outflow hingga minus 50 miliar dollar AS.

"Ini adalah reverse terhadap keberadaan hard currency terutama dollar AS yang sangat menentukan banyak negara," katanya.

Dorong Investasi

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Luar Negeri
Dua Kisah Dunia di Hari yan...
Megapolitan
Ketika Listrik Menjadi Fond...
133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

133 Kelompok Budidaya Ikan di Mataram Terima Bantuan Rp1,7 Miliar dari DKP.

03 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.