Cegah Keracunan Menu MBG, Pakar Minta Pemberian Izin SPPG Jangan Sembarangan
📅 Minggu, 04 Mei 2025, 18:20 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: Istimewa
JAKARTA - Pakar kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Dede Nasrullah, meminta pemberian izin bagi satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak sembarangan. Menurutnya, hal ini penting untuk mencegah kasus keracunan menu MBG.
"Pemerintah jangan asal memberikan izin kepada SPPG harus ada kroscek yang ketat baik dari tempat lokasi dan semuanya," ujar Dede, dikutip dari laman resmi UM Surabaya, Minggu (4/5).
Dia menyebut, SPPG harus memenuhi standar yang sudah ditetapkan mengenai penyediaan makanan dan pendistribusian secara ketat dan berkala dalam melakukan pengecekan. SPPG harus memperhatikan higienis makanan yang akan disajikan jangan sampai makanan yang diberikan tidak hiegienis baik dalam penyediaan proses hingga dalam penyajian.
"Harus ada kroscek yang ketat baik dari tempat lokasi dan semuanya. Jika terjadi maka izin yang sudah diberikan kepada satuan pengelola makanan segera dicabut dan tidak diberikan untuk mendistribusikan makanan kembali," jelasnya.
Dede nilai, penyebab permasalahan MBG karena penanganan makanan yang kurang baik seperti dalam aspek penyimpanan dan diatribusi. Makanan yang disajikan dalam jumlah besar harus melalui proses hiegienis yang ketat termasuk penyajiannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pemerintah harus segera melakukan evaluasi terkait dengan pengelolaan menu makanan tersebut," katanya.
Dede berpesan kepada penerima MBG agar mengenali kualitas makanan. Penerima harus mengenali tanda-tanda makanan yang sudah basi atau tidak higienis.
Dia menjelaskan, pengecekan menggunakan panca indra sering kali cukup efektif untuk menghindari konsumsi makanan yang berbahaya. Jenis makanan berkarbohidrat seperti nasi, mie, dan lontong cenderung cepat basi jika disimpan terlalu lama pada suhu ruang, ditandai dengan bau asam, tekstur berlendir, atau munculnya jamur.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Misalnya makanan basi umumnya dapat dikenali melalui perubahan aroma, tekstur, dan warna. Sebaiknya masyarakat untuk membiasakan mencium makanan sebelum mengonsumsinya sebagai langkah awal pencegahan," ucapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!