Bunyi dan Rasa Alunan Saluang dari Ngarai Sianok
📅 Rabu, 23 Apr 2025, 21:16 WIB | Oleh: Opik
Doc: Afut Syafril
PEKANBARU - Tak semua cahaya matahari mampu menembus rerimbunan daun di pucuk Ngarai Sianok, beberapa di antaranya tertahan dedaunan yang saling berdesakan dipaksa terpaan angin.
Namun ada satu alunan bunyi tertata mampu menembus segala rimbun daun Ngarai Sianok. Jelas sudah, bunyi tersebut adalah paduan antara rasa karsa manusia terhadap ciptaan alat musik yang kental nuansa tradisional.
Suara tersebut mirip seruling, namun memiliki ketebalan suara yang lebih besar dibandingkan frekuensi tinggi seruling biasa. Meski dilantunkan dengan bantuan pengeras suara, tetapi khas kemampuan manusia yang memainkannya nampak sudah pengalaman serta akrab dengan penguasaan alat tersebut.
Tebing-tebing Ngarai yang masih kokoh dengan lirih menggemakan suara tersebut. Suara saluang yang lirih namun tajam terdengar menembus semak dan rimbun dedaunan. Saluang merupakanalat musik tiup tradisional khas Sumatera Barat.
Alunan itu bukan sekadar musik, ia adalah napas tradisi yang mengalir dari seruas bambu dan sepasang paru-paru tua yang tak pernah lelah meniupkan sejarah. Di balik seruling bambu itu, berdiri sosok Majuang, seniman keliling dari Sumatera Barat yang hampir empat dekade telah mendedikasikan hidupnya pada alat musik warisan leluhur itu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Majuang bukan nama panggung. Itulah nama yang melekat padanya, seperti saluang yang melekat pada jemarinya. Dengan balutan pakaian adat dan kacamata yang menggantung di wajah tuanya, ia sering terlihat berdiri di salah satu sudut paling tenang di Ngarai Sianok.
Di sana, angin berhembus membawa serta suara saluangnya yang mistis. Ia membawa pengeras suara portabel yang ia letakkan di samping kakinya, alat bantu modern untuk menyampaikan suara masa lampau ke telinga masa kini.
Saluang yang ia mainkan memiliki nada-nada yang mengingatkan pada seruling Jepang dalam kisah-kisah samurai: lirih, melankolis, sekaligus penuh kebesaran jiwa. Tapi saluang bukan alat musik asing. Ia adalah milik Minangkabau.
Sebaiknya Anda baca juga:
Majuang menjadikannya hidup, tak hanya dengan tekniknya meniup, tetapi dengan rasa yang ia tumpahkan dalam setiap alunan. “Kadang-kadang suara saluang itu bisa beda-beda, tergantung lagunya, tergantung hati yang meniupnya,” ujar Majuang suatu siang, saat berbincang di bawah pohon ketapang yang menaungi panggung alamnya.
Sudah hampir 40 tahun Majuang meniupkan saluang. Ia mempelajarinya bukan di sekolah seni atau sanggar musik, melainkan dari kehidupan itu sendiri. Dari memperhatikan orang tua di kampung, dari mencoba dan gagal, dari meniup dan sesak, hingga akhirnya saluang menjadi perpanjangan dari napasnya.
Majuang tidak hanya bermain di Ngarai Sianok. Ia kerap diminta tampil dalam berbagai acara budaya di seluruh wilayah Sumatera, dari Padang Panjang hingga Pekanbaru. Tapi baginya, tempat paling istimewa tetaplah Ngarai Sianok, sebuah panggung alam yang memberi gema sempurna pada saluangnya.
“Kalau di sini, suara saluang bisa menembus bukit, menembus daun-daun. Seolah alam pun ikut mendengarkan,” ujarnya.
Setiap hari, pengunjung datang dan pergi. Ada yang berhenti, duduk di bangku kayu, terdiam mendengarkan. Ada yang sekadar lewat, memberi senyum atau sekeping uang sebagai bentuk apresiasi. Tapi bagi Majuang, penghargaan terbesar adalah ketika ada anak muda yang datang menghampiri dan bertanya, “Itu alat musik apa, Pak?”
Baginya, itulah misi utama dari setiap tiupan saluang yang ia mainkan; melestarikan. Agar orang mengenal, mencintai, dan mungkin suatu hari nanti, meneruskan. Dunia bisa bergerak cepat, teknologi bisa menggulung banyak hal, tetapi suara saluang tak boleh lenyap. Ia harus terus terdengar, dari bukit ke bukit, dari generasi ke generasi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!