Bermain untuk Pulih, Menyembuhkan Trauma Anak-anak di Pengungsian Gempa Bandung
📅 Jumat, 27 Sep 2024, 10:22 WIB | Oleh: Rivaldi Dani Rahmadi
Doc: Dok. Kemensos
Sudah satu minggu, anak-anak korban gempa di Kabupaten Bandung menjadikan tenda pengungsian sebagai tempat tinggal. Gempa merusak rumah, memaksa mereka berlindung di bawah terpal. Di luar tenda, langit abu-abu menggantung rendah, suhu dingin membuat pasrah.
Namun, saat masuk ke tenda Layanan Dukungan Psikososial Kementerian Sosial di Desa Cibereum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, dunia terasa berbeda. Atapnya penuh warna-warni tata surya, planet-planet dan bintang-bintang di atas kepala. Astronot mengambang, seolah-olah melayang di luar angkasa.
Dinding tenda dihiasi gambar-gambar cerita rakyat. Ada Si Toba yang sedang memancing ikan, hingga Suro yang hijau dan birunya Boyo yang berkejaran. Warna-warni cerah khas anak-anak menghiasi setiap inci atap dan dinding. Seolah memindahkan anak-anak dari tempat pengungsian, menuju dunia dongeng yang penuh keajaiban.
Di antara pemandangan imajinatif, senyum dan tawa terukir. Bersama dengan Tim Layanan Dukungan Psikososial Kemensos, mereka yakin bencana ini akan segera berakhir. Apalagi siang itu, Rabu (25/9/2024), mereka kedatangan tamu spesial, Gus Ipul, sang Menteri Sosial.
Dengan senyum yang hangat, Mensos bernama lengkap Saifullah Yusuf itu menyapa dan membawa pesan penting. Mensos Gus Ipul menekankan pentingnya pemahaman terhadap berbagai ancaman bencana alam.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Ada bencana banjir, ada gunung api, ada juga longsor, ada juga rawan gempa," jelasnya sambil sesekali memberi jeda agar anak-anak bisa mencerna informasi.
Dalam suasana hangat namun penuh perhatian, Mensos Gus Ipul mengajak anak-anak agar bisa memahami bencana sehingga mereka bisa melakukan penyelamatan.Suasana pun seketika lebih riang saat Mensos Gus Ipul mengomentari lagu yang baru dinyanyikan anak-anak.
"Salah satu caranya tadi seperti dalam lagu itu. Hebat ini lagunya, tepuk tangan!" serunya sambil tersenyum lebar. Tepuk tangan riuh menggema dari tenda, menambah kehangatan di tengah cuaca dingin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Anak-anak menyanyikan "manuk dadali" yang liriknya diubah sesuai dengan urutan mitigasi bencana. Uniknya, lirik tetap berbahasa sunda agar mudah dihafal anak-anak. Adalah salah satu anggota Tim LDP Kemensos, Igun Gunawan (50), yang mengubah lirik lagu tersebut.
"Lamun aya gempa dijaga mastakana," yang berarti "Jika ada gempa, jaga kepalamu," diikuti dengan "Lamun aya gempa nyumput ka kolong meja," atau "Jika ada gempa, berlindung di bawah meja."
Lagu tersebut melanjutkan panduan penting seperti "Lamun aya gempa jauhan anu bahaya," yang berarti "Jauhi benda berbahaya," dan "Lamun aya gempa lumpat kanu laluasa," atau "Lari ke tempat terbuka."
Untuk mencegah kepanikan, anak-anak juga diajarkan melalui lirik "Lamun pasesedeuk, tong suntrung-suntrungan," yang artinya "Jika ramai, jangan saling dorong," dan "Ulah parebut, lumpat kanu aman," atau "Jangan berebut, lari ke tempat yang aman."
Meskipun berhasil membuat anak-anak memahami mitigasi bencana lewat lagu, Igun mengatakan ia belum meminta izin kepada keluarga Abah Sambas, pencipta lagu Manuk Dadali. Namun ia yakin, keluarga tidak akan keberatan karena lagu tersebut digunakan untuk tujuan kebaikan dan tidak dikomersilkan.
Lewat lagu, Igun berharap anak-anak bisa melakukan penyelamatan diri. Sejak gempa bermagnitudo 4,9 yang terjadi pada 18 September lalu, lebih dari 30 kali gempa susulan masih terjadi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!