Batuk Lebih dari Dua Pekan? Cepat Lakukan Hal Ini
📅 Jumat, 31 Mar 2023, 11:28 WIB | Oleh: Rivaldi Dani Rahmadi
Doc: Times Of India
Dokter spesialis paru dari RSUP Persahabatan DR dr Fathiyah Isbaniah, SpP(K), MPd, Ked. menyarankan seseorang yang mengalami batuk berdahak lebih dari dua pekan segera berkonsultasi ke dokter. Ini bertujuan untuk mendeteksi tuberkulosis (TB).
"Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan dahak dan foto rontgen," kata Fathiyah dalam webinar bertema "Ayo Bersama Akhiri TBC" yang digelar PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) memperingati World Tuberculosis Day 2023, dikutip dari Antara, Jumat (31/3).
Fathiyah yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Paru Indonesia itu mengatakan, jika seseorang terdiagnosis TB, maka bisa segera menjalani pengobatan agar pulih dan mencegah penularan kepada orang lain. Menurutnya, pengobatan yang adekuat memungkinkan kondisi pasien pulih dalam dua pekan dan menurunkan risiko menularkan pada orang lain.
"Semakin cepat pasien berobat dengan dosis yang adekuat, dalam waktu dua minggu dia sudah kurang menularkan artinya masih tetap dapat menularkan tetapi kurang dibandingkan dengan yang tidak berobat," ucapnya.
TB bisa mengenai siapa saja termasuk mereka yang rentan seperti anak-anak, orang lanjut usia atau lansia, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta dan pernah kontak dengan pasien TB. Adapun gejala yang muncul saat terkena penyakit ini, seperti batuk berdahak selama dua pekan dan apabila ada pembuluh darah pecah di sekitar saluran pernapasan, maka akan menimbulkan batuk darah. Walau begitu, batuk darah tak serta merta TB tetapi juga bisa disebabkan penyakit lain.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, pasien TB juga kerap mengalami nyeri badan disertai gejala sistemik seperti demam walau tidak terlalu tinggi. Pada sore hari, pasien merasakan tubuhnya panas walau saat diukur suhunya normal. Selain itu, gejala lainnya yakni tidak nafsu makan.
Fathiyah mencatat, kebanyakan orang-orang yang berobat TB sudah dalam stadium lanjut atau mengalami gejala. Walau begitu, ada juga yang masih dalam stadium awal yakni mereka yang berkontak dengan pasien positif.
"Setelah diperiksa, tubuhnya mengandung kuman TB tetapi belum menjadi penyakit dan ini disebut TB laten. Orang ini perlu diobati dengan terapi preventif," tuturnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!