Bahayanya Limbah B3 di Tengah Permukiman
📅 Rabu, 16 Jul 2025, 17:59 WIB | Oleh: Opik
Doc: Antara/Azmi Samsul Maarif
JAKARTA - Bagi banyak orang, rumah didambakan sebagai tempat pulang, tempat untuk perlindungan, ruang tumbuh, dan sumber ketenangan. Hal itu, tidak demikian untuk sekelompok warga di sebuah klaster di Tangerang, Banten.
Dalam beberapa waktu terakhir, rumah bagi mereka justru menjelma menjadi ruang yang setiap harinya menyimpan ancaman senyap dari udara yang mereka hirup.
Ancaman itu tak kasatmata, tetapi nyata terasa, terutama di napas yang semakin berat, mata yang perih, hewan peliharaan yang mati mendadak, hingga anak-anak yang terbatuk, tanpa sebab.
Semua ini diduga berasal dari pembakaran limbah plastik serta limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari pabrik pengolahan yang berdiri persis di balik tembok perumahan mereka.
Apa yang dialami warga tersebut, bukan sekadar gangguan sesaat, melainkan potret darurat kesehatan lingkungan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Dan hal itu banyak terjadi di berbagai wilayah di Tanah Air.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Dr. Dicky Budiman, epidemiolog dan pakar kesehatan lingkungan dari Griffith University Australia, pembakaran limbah plastik dan B3 memicu pelepasan senyawa berbahaya, bahkan dalam kadar yang sangat kecil.
Senyawa, seperti dioksin dan furan bersifat karsinogenik dan bioakumulatif. Artinya, zat ini bisa menumpuk dalam tubuh manusia dan hewan, dan dalam jangka panjang berpotensi memicu kanker, gangguan hormonal, dan penyakit kronis lainnya.
Bahaya ini tidak bersifat langsung, namun menyusup perlahan dalam siklus harian, hingga tiba-tiba muncul dalam bentuk penyakit yang sulit disembuhkan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Asap dari pembakaran ini juga membawa partikel halus, seperti PM2.5 dan PM10, yang mampu menembus jauh ke saluran pernapasan. Mereka yang menderita asma, bronkitis, atau gangguan paru-paru lainnya akan merasakan dampak lebih cepat dan berat.
Polutan lain, seperti nitrogen dioksida (NO?) bisa memicu peradangan pembuluh darah dan meningkatkan risiko serangan jantung serta stroke, khususnya pada kelompok lansia atau mereka yang telah memiliki penyakit penyerta.
Dampaknya nyata, bukan hanya statistik. Ada anak-anak yang tidak bisa belajar dengan nyaman karena sakit kepala dan sulit bernapas, ada lansia yang tidak lagi bisa beraktivitas seperti biasa karena sesak mendalam yang terus menerus datang.
Hal yang lebih memprihatinkan, anak-anak menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan limbah berbahaya ini.
Logam berat, seperti timbal dan merkuri yang dilepaskan dari pembakaran limbah, diketahui dapat mengganggu perkembangan otak anak, menurunkan IQ, dan bahkan dikaitkan dengan gangguan perilaku, seperti autisme.
Anak-anak yang sedang tumbuh dengan penuh harapan justru dibayangi potensi masa depan yang terhambat karena pencemaran udara yang tidak pernah mereka minta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!