Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Badai Matahari Ekstrem Ancam Jaringan Listrik dan Sistem Navigasi

📅 Senin, 13 Mei 2024, 00:02 WIB | Oleh:
Badai Matahari Ekstrem Ancam Jaringan Listrik dan Sistem Navigasi Doc: GEOFF ROBINS/AFP
Ket. Fenomena langit akibat badai matahari di London, Inggris.

WASHINGTON - Pusat Prediksi Cuaca Antariksa Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mengumumkan badai matahari ekstrem akan terjadi pada akhir pekan ini yang berpotensi memicu pemadaman listrik, mengganggu sistem navigasi, dan mematikan radio frekuensi tinggi di seluruh dunia.

Hal ini adalah pertama kalinya sejak Januari 2005, badan tersebut mengeluarkan peringatan badai geomagnetik G4, yang tertinggi kedua dalam skala lima langkah, ketika berbagai gelombang energi matahari menghantam planet ini.

Dikutip dari The Straits Times, lima ledakan material dari atmosfer matahari diperkirakan terjadi mulai akhir tanggal 10 Mei dan berlangsung hingga 12 Mei. "Pengamatan pada tingkat ini sangat jarang terjadi," kata Pusat Prediksi Cuaca Luar Angkasa.

"Meskipun manusia akan terlindungi oleh medan magnet bumi, jaringan listrik yang tidak siap dapat terganggu, jaringan pipa dapat terisi arus listrik, dan pesawat ruang angkasa dapat terlempar keluar jalur," tambahnya.

Terakhir kali Bumi dilanda badai G5, yang terburuk dalam skalanya, adalah pada bulan Oktober 2003, menyebabkan pemadaman listrik di Swedia dan merusak trafo di Afrika Selatan.

Kekuatan sebenarnya dari badai tersebut akan diketahui sekitar 60 hingga 90 menit sebelum menghantam Bumi saat satelit mengukur semburan energi yang masuk. "Sebagian besar wilayah Asia, Eropa, dan Amerika Utara mungkin dapat melihat aurora, yang sering disebut Cahaya Utara, dalam semalam saat langit gelap dan cukup cerah," kata Kantor Meteorologi Inggris, mencatat kemungkinan besar aurora akan terlihat di seluruh negara itu.

Paparan Radiasi

Selain itu, penerbangan trans-polar antara Eropa, Asia, dan Amerika Utara kemungkinan akan dialihkan untuk menghindari peningkatan paparan radiasi bagi penumpang dan awak pesawat. Pelakunya adalah gugusan bintik matahari yang terlihat di sisi kanan piringan matahari yang berukuran 16 kali lebih lebar dari Bumi.

Matahari, yang berputar melalui siklus 11 tahun dengan jumlah bintik bertambah dan berkurang, mendekati puncak siklus saat ini yang dimulai pada Desember 2019.

Seperti dikutip dari Antara, para pejabat Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional atau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) AS mengatakan mereka belum pernah mengeluarkan peringatan sebesar ini selama lebih dari dua dekade. Badai G5 terakhir terjadi pada Oktober 2003.

"Badai geomagnetik dapat berdampak pada infrastruktur di orbit dekat Bumi dan di permukaan Bumi, berpotensi mengganggu komunikasi, jaringan listrik, navigasi, operasi radio, dan satelit," kata NOAA dalam pernyataan resmi seperti dikutip oleh Anadolu.

Untuk mengantisipasi dampak badai G5 itu, NOAA memperingatkan para operator pembangkit listrik dan badan antariksa di seluruh dunia untuk mengambil tindakan pencegahan.

Mereka mengatakan peristiwa tersebut dapat menyebabkan masalah tegangan listrik secara meluas, mengganggu operasi pesawat ruang angkasa, serta sistem navigasi satelit dan radio di seluruh dunia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Pemerintah Perlu Fokus Perc...

UMKM Didorong Tembus Rantai Global

45 menit yang lalu | Lukman

Nasional
UMKM Didorong Tembus Rantai...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.