Mengenal Temerodok, Jajanan Khas Sakra Warisan Manis dari Timur Pulau Lombok
Jumat, 06 Nov 2026, 13:55 WIB | Oleh: OpikMeski begitu, keduanya tetap berharap temerodok tetap bertahan sebagai jajanan tradisional lokal dan semakin dikenal luas di tengah perkembangan zaman dengan berbagai jenis makanan modern yang terus bermunculan.
"Harapan saya pribadi mudah-mudahan temerodok ini walaupun produk lokal ke depannya tetap bertahan dan bisa lebih mendunia lagi," kata Mustikawati.
Harapan para pembuat temerodok menjadi penting karena keberlangsungan tradisi tidak cukup hanya bergantung pada orang-orang yang menguasai keterampilannya saat ini. Perlu ada generasi berikutnya yang bersedia belajar, mencoba, dan meneruskan pengetahuan tersebut.
Raih pengakuan nasional
Sebaiknya Anda baca juga:
Temerodok, jajanan tradisional yang bertahan lama dan dijaga oleh tangan-tangan terampil masyarakat Sakra, akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Kuliner berbahan utama tepung ketan putih, telur, dan gula pasir tersebut diperkirakan berkembang sejak awal abad ke-20 seiring masuknya pengaruh kuliner Bugis-Makassar ke wilayah Sakra. Resep dan bentuk jajanan manis itu kemudian disesuaikan dan menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.
Literatur Ensiklopedi Produk Pangan Jilid 2 menyebut temerodok sudah menjadi legenda dari zaman runtuhnya Kerajaan Selaparang dan berdirinya Kerajaan Sakra dan tetap mempunyai cita rasa bangsawan.
Temerodok yang diwariskan secara turun-temurun lintas generasi tersebut kini resmi ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 6 September 2026.
Penetapan itu menjadi bentuk pengakuan nasional atas nilai sejarah dan praktik budaya tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat Sakra. Pemerintah Kabupaten Lombok Timur sebelumnya mengajukan temerodok sebagai WBTb untuk memperkuat upaya pelestarian salah satu identitas kuliner daerah tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Barat Muhamad Ihwan menilai bahwa pengakuan tersebut sekaligus menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan tradisi pembuatan temerodok tetap berlangsung.
Menurut dia, tantangan terbesar bukan hanya kenaikan harga bahan baku atau persaingan antarpedagang, tetapi juga bagaimana menjaga keberlanjutan tradisi dan memastikan adanya regenerasi yang mau belajar dan meneruskan keterampilan tersebut hingga ke generasi-generasi selanjutnya.
Keberadaan temerodok tak hanya sebagai jajanan khas. Lebih dari itu, terdapat keterampilan yang tumbuh, dijaga, dan diwariskan di tengah kehidupan masyarakat. Ketika keterampilan tersebut tidak lagi diteruskan, maka keberadaan temerodok sebagai bagian dari tradisi masyarakat Sakra juga menghadapi tantangan untuk bertahan.
Dinas Kebudayaan NTB berharap penetapan WBTb tidak berhenti sebagai pengakuan administratif, melainkan juga dapat memperkuat identitas budaya masyarakat Sakra, sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pembuat dan pedagang temerodok.
Demi mendukung keberlanjutan tersebut, Dinas Kebudayaan NTB mendorong program pemajuan kebudayaan daerah melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Lombok Timur dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), komunitas, dan juga perguruan tinggi.
Selain menjaga tradisi pembuatannya, inovasi dalam pengembangan temerodok juga perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman. Penguatan kualitas produk, kemasan, promosi, dan perluasan akses pasar menjadi bagian dari upaya memperkenalkan jajanan tersebut secara lebih luas, tanpa menghilangkan nilai sejarah dan identitas budaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!