Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Emisi Angkutan Barang Terus Membayangi, Transisi Logistik Hijau Jalan di Tempat

6 Jumat, 06 Nov 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Emisi Angkutan Barang Terus Membayangi, Transisi Logistik Hijau Jalan di Tempat Emisi Angkutan Barang Terus Membayangi, Transisi Logistik Hijau Jalan di Tempat Doc: ANTARA/HO-Pustral UGM
Ket. Ketua Tim Kajian dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM Arif Wismadi.

Yogyakarta - Emisi angkutan barang di koridor jalan Jawa-Bali mencapai 19,72 juta ton karbon dioksida (CO₂) pada 2026 dan berpotensi melonjak 51 persen menjadi 29,80 juta ton pada 2035 jika tidak ada intervensi. Namun, upaya menekan emisi melalui elektrifikasi armada masih menghadapi persoalan mendasar, mulai dari mahalnya harga truk listrik hingga ketimpangan infrastruktur pengisian daya.

Dikutip dari Antara, Kajian Pusat Studi Transportasi dan Logistik Universitas Gadjah Mada (Pustral UGM) bersama PT Egis International Indonesia menemukan 79 persen emisi angkutan barang di koridor Jawa-Bali terkonsentrasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Febriani Astari dari PT Egis International Indonesia mengatakan Jawa Barat menyumbang 31 persen emisi, disusul Jawa Tengah 26 persen dan Jawa Timur 22 persen. Sementara itu, truk dua sumbu medium dan truk tiga sumbu berkontribusi sebesar 59 persen terhadap total emisi.

"Dengan asumsi harga karbon 50 dolar AS per ton, nilai ekonomi emisinya mencapai sekitar Rp220 triliun secara kumulatif hingga 2035," kata Febriani di Yogyakarta, Kamis (5/11).

Menurut dia, konsentrasi emisi tersebut sebenarnya membuka peluang bagi pemerintah dan pelaku industri untuk memprioritaskan pengendalian di wilayah dengan kontribusi terbesar. Lebih dari tiga perempat emisi berasal dari tiga provinsi, sementara lebih dari seperempatnya terkonsentrasi di sepuluh kabupaten/kota.

"Persoalannya ternyata lebih sempit dan lebih bisa dikelola. Lebih dari tiga perempat emisi ada di tiga provinsi, dan lebih dari seperempatnya berasal dari sepuluh kabupaten/kota, sehingga kita bisa memulai dari titik-titik panas tersebut," ujarnya.

Meski demikian, percepatan elektrifikasi angkutan barang belum mudah diwujudkan. Ketua Tim Kajian Pustral UGM Arif Wismadi mengatakan hasil 14 wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah (FGD) di Jakarta, Surabaya, dan Bali yang melibatkan 185 instansi menunjukkan infrastruktur pengisian daya dan harga truk listrik menjadi hambatan utama.

Survei terhadap 50 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) angkutan barang juga memperlihatkan persoalan keterjangkauan pembiayaan. Hanya delapan persen responden bersedia beralih ke truk listrik dengan skema kredit yang tersedia saat ini. Namun, minat tersebut meningkat menjadi 56 persen apabila tersedia uang muka 15 persen, bunga nol persen, dan persyaratan jaminan cukup menggunakan BPKB truk listrik.

Untuk mengatasi hambatan tersebut, kajian merancang tiga prototipe pembiayaan, yakni kredit hijau berbasis kontrak dengan pemilik barang, sewa armada tanpa uang muka, serta skema langganan baterai.

"Truk listrik tidak akan berpindah dari brosur ke jalan raya selama hitungannya belum masuk akal bagi operator," kata Arif.

Persoalan lain terlihat dari distribusi infrastruktur pengisian kendaraan listrik. Kajian tersebut mengembangkan aplikasi web EQLAS for EV untuk membantu perencanaan lokasi pengisian daya agar lebih merata secara geografis dan sosial.

Transformasi Logistik

Di sisi lain, Asosiasi Pengusaha Green Logistics Indonesia (APGLI) mendorong transformasi industri logistik melalui efisiensi energi, pengukuran emisi karbon, penggunaan teknologi rendah karbon, serta pengembangan rantai pasok berkelanjutan.

Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki mengatakan pelaku usaha perlu mulai mencatat emisi yang dihasilkan dari kegiatan pengangkutan barang melalui jalur darat, laut, maupun udara. Pencatatan tersebut diperlukan sebagai dasar untuk menyusun langkah pengurangan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Menurut dia, perubahan dapat dimulai dari kegiatan sederhana, seperti perawatan armada secara berkala sesuai petunjuk pabrikan agar konsumsi bahan bakar dan emisi tidak berlebihan.

APGLI yang baru melaksanakan peluncuran pada 29 Oktober 2026 juga menyiapkan program edukasi, penghitungan karbon gratis bagi perusahaan, pengembangan Green Logistic Zone, serta publikasi dan kegiatan peningkatan kapasitas pelaku industri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...

PSIM Masih Bersama Pelatih Darurat Saata Hadapi Dewa United

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
PSIM Masih Bersama Pelatih ...

Cianjur Maksimalkan Persiapan Menghadapi Perhelatan Besar

1.5 jam yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Cianjur Maksimalkan Persiap...
Advertisement
Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Resmi Dibuka Kemenhaj, Cek Syarat dan Jadwalnya Disini!

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Daerah 2027 Resmi Dibuka Kemenhaj, Cek Syarat dan Jadwalnya Disini!

05 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.