Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Komnas HAM Rilis 6 Rekomendasi Penanganan Karhutla dan Penegakan Hukum

5 Kamis, 05 Nov 2026, 20:05 WIB | Oleh:
Komnas HAM Rilis 6 Rekomendasi Penanganan Karhutla dan Penegakan Hukum Komnas HAM Rilis 6 Rekomendasi Penanganan Karhutla dan Penegakan Hukum Doc: ANTARA/Rendra Oxtora
Ket. Arsip Ilustrasi - Petugas BPBD Kalbar melakukan pendinginan pada lahan gambut yang terbakar di Desa Arang Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya belum lama ini.

JAKARTA - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) merilis enam poin rekomendasi resmi terkait penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dinilai berpotensi memicu pelanggaran HAM di berbagai wilayah Indonesia. 

“Melihat eskalasi dugaan pelanggaran HAM akibat karhutla, Komnas HAM menilai penting untuk menyampaikan rekomendasi awal kepada pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Kepolisian Negara Republik Indonesia,” kata Ketua Komnas HAM Anis Hidayah dalam keterangannya diterima di Jakarta, Kamis (5/11).

Enam rekomendasi Komnas HAM tersebut mendesak pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga Polri untuk segera mengambil tindakan konkret, terukur, dan berkelanjutan dalam menanggulangi dampak bencana tahunan yang dinilai berpotensi memicu pelanggaran HAM.

Pada rekomendasi pertama, Komnas HAM mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera memberikan perlindungan menyeluruh kepada warga terdampak karhutla.

Perlindungan tersebut bukan hanya bertujuan mencegah korban jiwa, melainkan juga menekan risiko jangka panjang terhadap kesehatan, keselamatan, pendidikan, hingga pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih, dan pangan, terutama bagi kelompok rentan.

Selanjutnya poin kedua, Komnas HAM meminta pemerintah memperkuat upaya pencegahan dan mitigasi karhutla melalui penyediaan anggaran, personel, serta sarana prasaran yang memadai hingga ke tingkat kabupaten/kota dan desa.

“Komnas HAM secara khusus mendorong penguatan deteksi dini, patroli rutin, serta pemberian dukungan operasional penuh bagi masyarakat peduli api (MPA) di tingkat akar rumput,” ujar Anis.

Rekomendasi ketiga, fokus pada jaminan keselamatan bagi para garda terdepan penanganan bencana. Komnas HAM meminta pemerintah menjamin keselamatan dan kesehatan seluruh petugas pemadan serta relawan melalui penyediaan alat pelindung diri (APD) standard, fasilitas layanan kesehatan, hingga kepastian jaminan sosial ketenagakerjaan, termasuk jaminan kecelakaan kerja dan kematian.

Pada rekomendasi poin keempat dan kelima, Komnas HAM menekankan pentingnya pengawasan dan penegakan hukum yang tegas, konsisten, transparan, serta tanpa pandang bulu terhadap para pelaku karhutla.

Aparat penegak hukum diimbau untuk tidak hanya memproses pelaku perorangan, tapi juga mengoptimalkan pertanggungjawaban pidana korporasi, termasuk menelusuri keterlibatan jajaran direksi, pengurus, maupun pihak-pihak yang memperoleh keuntungan dari pembakaran lahan.

Selain sanksi pidana, Komnas HAM juga mendorong penerapan sanksi administratif secara ketat serta pengajuan gugatan perdata berupa kewajiban pembayaran ganti rugi dan pemulihan lingkungan secara menyeluruh.

Penegakan hukum yang komprehensif ini dinilai sangat krusial guna memberikan efek jera serta mencegah terulangnya pembakaran di kawasan konsesi perusahaan.

“Penegakan hukum tersebut harus berorientasi pada pemberian efek jera, pencegahan keberulangan, serta pemenuhan tanggungjawab negara dalam melindungi hak lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak atas kesehatan, dan hak masyarakat untuk memperoleh kehidupan yang layak,” tegasnya.

Adapun rekomendasi keenam, Komnas HAM mendesak pemerintah untuk memastikan proses pemulihan pasca-karhutla dilakukan secara holistik. Langkah pemulihan wajib mencakup pemulihan fungsi ekosistem, tata ari, dan tutupan vegetasi, sekaligus memulihkan sumber penghidupan warga dengan tetap menghormati hak-hak masyarakat adat serta komunitas lokal atas tanah, dan sumber daya alam.

Komnas HAM secara tegas menggarisbawahi bahwa perlindungan HAM tidak boleh ditunda hanya karena kendala prosedur administratif, keterbatasan anggaran, atau masalah koordinasi antarlembaga.

“Negara harus hadir dan mengambil langkah segera, nyata, dan berkelanjutan untuk memastikan hak-hak masyarakat tetap terlindungi,” kata Anis.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Dishub: Pemerintah Siapkan Tiga Pelabuhan Alternatif untuk Antisipasi Kepadatan Nataru 2026-2027

Dishub: Pemerintah Siapkan Tiga Pelabuhan Alternatif untuk Antisipasi Kepadatan Nataru 2026-2027

05 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.