Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Godzilla Minus Zero, Teror Monster Raksasa yang Tetap Memukau Penonton

5 Kamis, 05 Nov 2026, 18:03 WIB | Oleh:
Godzilla Minus Zero, Teror Monster Raksasa yang Tetap Memukau Penonton Godzilla Minus Zero, Teror Monster Raksasa yang Tetap Memukau Penonton Doc: ANTARA/Abdu Faisal
Ket. Suasana pemutaran khusus film "Godzilla Minus Zero", sekuel dari Godzilla Minus One" yang memenangi Piala Oscar, di layar IMAX kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, Selasa (3/11).

JAKARTA - Waralaba "Godzilla" dari Jepang memiliki penggemar setianya di berbagai negara, tak terkecuali di Indonesia.

Sejak pertama kali diperkenalkan oleh Toho Studios di Jepang pada 3 November 1954, sosok monster raksasa tersebut terus berevolusi melalui berbagai film, adaptasi, dan berbagai interpretasi figur aksi.

Hingga kini, waralaba itu telah berkembang menjadi 38 judul, termasuk produksi Jepang dan Hollywood, sekaligus mempertahankan tempat tersendiri di hati penggemar film monster (kaiju) lintas generasi.

Perjalanan panjang waralaba tersebut semakin berharga sejak salah satu film produksi studio asal Jepang dalam waralaba ini yakni Godzilla Minus One meraih penghargaan Academy Awards atau Piala Oscar untuk kategori Efek Visual Terbaik pada filmnya yang ke-37.

Hal tersebut menjadi salah satu topik pembahasan penggemar sekaligus anggota komunitas penggemar Ferdi Firdaus Ahmad dari Komunitas Tokusatsu (Komutoku) Indonesia dan Godzilla Freak Indonesia (GFI) saat digelarnya acara penayangan khusus (special screening) Godzilla Minus Zero di sebuah bioskop kawasan Gandaria, Jakarta Selatan, pada Selasa (3/11).

Penayangan khusus film terbaru Godzilla di Indonesia, yang bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-72 Godzilla sejak pertama kali tayang pada 3 November 1954, membuat Ferdi dkk. merasa tidak ingin melewatkannya.

Sebab, menurut Ferdi, Godzilla tak pernah meninggalkan ciri khas yang membuatnya dikenal sejak awal kemunculan yakni pertarungan monster yang masif, meskipun dikemas berbeda, sebelumnya menggunakan kostum karet (suitmation), kemudian dengan dukungan animatronik sebagai efek tambahan, sebelum beralih sepenuhnya ke teknologi digital atau computer-generated imagery (CGI) di era modern.

Dalam perbincangan tersebut, para penggemar menyoroti bagaimana Toho Studios terus merawat identitas asli Godzilla yang sudah membekas di ingatan mereka meski mengubah pendekatan visual dan penceritaan di filmnya, sehingga karakter tersebut tetap relevan bagi penonton dari generasi ke generasi.

Pengalaman menonton di layar bioskop berstandar IMAX juga menjadi daya tarik tersendiri. Bagi penggemar, menyaksikan Godzilla melalui layar lebih luas menghadirkan sensasi yang memikat dibandingkan dengan menonton melalui televisi atau layar bioskop reguler.

Bahkan, sensasi tersebut sudah dibangun sejak sebelum film dimulai lewat fase hitung mundur khas layar bioskop premium tersebut. Fase hitung dari angka 10 hingga 1 itu tidak statis, tapi menghadirkan pengalaman penuh yang khas.

Bagi penonton yang baru pertama kali mencoba menonton di IMAX, fase ini memicu lonjakan adrenalin dan memberikan gambaran nyata bahwa mereka akan segera merasakan pengalaman menonton yang imersif.

Adrenalin itu tidak dibiarkan menurun karena film pun langsung dimulai dengan memperlihatkan visual monster musuh Godzilla sejak awal. Rasio layar yang luas berpadu dengan tata suara yang menggelegar semakin membuat skala kehancuran dari pergerakan makhluk raksasa itu terasa lebih kuat.

Bagian yang paling mendapat perhatian adalah kemunculan King Ghidorah yang menghancurkan kota, serta lagu latar pengiring kemunculannya yang berjudul Eclipse karya komposer Jepang, Naoki Sato.

Komposisi musik latar itu menghadirkan suasana mencekam melalui permainan instrumen senar yang melengking dan bergetar. Nuansa yang dibangun terasa menghantui, sekaligus memperkuat ketegangan.

Begitu pula saat Godzilla bangkit dari kedalaman air untuk menghadapi ancaman. Musik tidak sekadar menjadi pengiring adegan, tetapi ikut membentuk skala ancaman dan emosi yang ingin disampaikan film.

Film berdurasi sekitar 135 menit itu memberikan ruang bagi cerita untuk berkembang sekaligus menampilkan rangkaian pertarungan monster.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta

WHO Setujui Uji Klinis Dua Vaksin Ebola Bundibugyo

44 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
WHO Setujui Uji Klinis Dua ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Dishub: Pemerintah Siapkan Tiga Pelabuhan Alternatif untuk Antisipasi Kepadatan Nataru 2026-2027

Dishub: Pemerintah Siapkan Tiga Pelabuhan Alternatif untuk Antisipasi Kepadatan Nataru 2026-2027

05 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.