Setelah 'Merah Sebelum Fajar' Tayang di Tokyo, Garin Nugroho Punya Ide Film Baru!
Senin, 02 Nov 2026, 17:09 WIB | Oleh: Opik
Doc: HO/TIFF 2026
TOKYO, JEPANG - Sutradara Garin Nugroho sudah merencanakan proyek terbarunya usai film "Merah Sebelum Fajar" tayang di Tokyo International Film Festival 2026, Selasa (27/10).
Saat ditemui usai pemutaran film di Tokyo, Garin mengatakan sudah punya ide film baru yang akan digarap setelah kembali ke Tanah Air.
"Tentang pahlawan, tapi biasanya saya ambil pahlawan yang nggak populer, tapi, yang penting," ujar Garin.
Dia belum mau memberikan informasi lebih banyak tentang rencana tersebut, termasuk soal siapa sosok yang akan diangkat dan kapan film tersebut akan tayang. Bagi sang sutradara, dia selalu tertarik kepada cerita sejarah yang penting untuk diketahui, tapi, relatif jarang dibaca oleh orang-orang.
Film, ujar Garin, adalah caranya untuk membuat pernyataan kepada dunia. Kritik sosial dan kemarahan soal apa yang terjadi di depan mata mendorongnya untuk membuat karya.
Selama 45 tahun berkarir, Garin setidaknya telah membuat dua film tentang pahlawan nasional, yaitu Tjokroaminoto lewat "Tjokroaminoto: Guru Bangsa" dan "Soegija" yang mengangkat pahlawan nasional Albertus Soegijapranata.
Perjalanan karier sang sutradara direfleksikan dalam sejumlah pameran, antara lain "Peladang Berpindah: 45 Tahun Berkarya Garin Nugroho" yang berlangsung pada September 2026 hingga Januari 2027. Sejumlah film hingga iklan layanan masyarakat garapan Garin ditayangkan di sana, mulai dari "Puisi Tak Terkuburkan", "Nyanyi Sunyi dalam Rantang", "Soegija", hingga "Bulan Tertusuk Ilalang".
Perjalanan "Merah Sebelum Fajar"
Sebelumnya diberitakan, tangis sutradara Garin Nugroho pecah usai penayangan perdana Red Before Dawn (Merah Sebelum Fajar) di Hulic Hall Tokyo, pada 27 Oktober 2026, yang merupakan bagian dari Tokyo International Film Festival ke-39.
Air matanya jatuh karena perasaan getir, marah, dan geram yang sudah dipendam bertahun-tahun menyaksikan kekerasan yang terjadi di Indonesia, juga tempat lain di dunia.
“Aku nggak pernah nangis di panggung,” kata Garin saat berbincang dengan wartawan di Tokyo setelah filmnya diputar untuk pertama kalinya di dunia.
Merah Sebelum Fajar adalah bagian dari perjalanan panjang Garin Nugroho di festival film Asia yang sudah diselenggarakan sejak 1985 itu.
Sejarah Garin dengan Tokyo International Film Festival dapat dirunut hingga puluhan tahun lalu, ketika pada 1994 ia meraih penghargaan Gold Prize di Tokyo lewat film Surat untuk Bidadari.
“Dapat penghargaan 20 juta yen, film terbaik (Surat untuk Bidadari). Daun di Atas Bantal dapat Special Jury Prize (tahun 1998). Tapi ya nggak nangis!” kenang Garin.
“Terlalu banyak kekerasan dalam kehidupan ini, jadi katarsis. Dan banyak orang-orang yang terkena bencana dan kekerasan, tapi tidak diperhatikan. Jadi banyak ketidakberdayaan, korban kekerasan, korban kerusakan alam yang bukan jadi dosa mereka,” papar Garin.
Merah Sebelum Fajar menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia dalam kompetisi utama di Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026 (Festival Film Tokyo) yang diikuti berbagai negara itu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!