INALUM Kejar Aluminium Hijau, Incar Listrik Asahan 1 & 3 di 2029
Selasa, 27 Okt 2026, 11:08 WIB | Oleh: Tim RedaksiDampak di Mempawah dan Proyek Rp 100 Triliun
Di Mempawah, dampaknya sudah terasa. Proyek diproyeksikan menciptakan 130.000 lapangan kerja baru. Pertumbuhan ekonomi Mempawah yang semula 4 persen, terendah di kabupaten, kini di atas 6 persen, hampir 7 persen.
SGAR 1 dengan investasi Rp 15 triliun baru akan COD Februari 2026, namun Inalum sudah memakai produk alumina dari PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sejak Agustus 2025 saat commissioning.
Sejak 1982 Inalum impor alumina. Bauksit diekspor, diolah di luar, lalu diimpor lagi. Padahal di dalamnya ada logam tanah jarang.
"Ke depan kita tidak hanya mengambil aluminanya dari bauksit, tapi juga mengambil mineral-mineral lainnya," kata Arief.
Salah satunya besi 33 persen di bauksit. Riset MIND ID sudah meningkatkan menjadi 53 persen. Untuk dipakai Krakatau Steel butuh 56 persen Fe dan silika turun dari 11 persen ke bawah 6 persen. Jika berhasil, red mud yang semula biaya akan menjadi revenue bahan baku baja.
Untuk hilir lanjutan, aluminium diolah jadi alloy dan billet, bahan baku ekstrusi kusen high-rise dengan kenaikan nilai 1,2-1,3 kali. Di atasnya ada kabel PLN dan billet seri 3,5,6 untuk otomotif, serta pengembangan seri 2 (aluminium-Cu) dan seri 7 (aluminium-zinc) untuk struktur pesawat terbang.
"Seri 2 mudah dibentuk tapi kalau rusak tidak bisa dilas. Seri 7 agak keras tapi bisa dilas kalau retak," jelasnya.
Aluminium juga ada 40 persen di baterai EV untuk braket. Konsumsi Indonesia masih 1,5 kg per kapita per tahun atau kebutuhan 450 ribu ton, dengan market share Inalum 46-48 persen. Bandingkan China dan Eropa 24-26 kg per kapita.
Tantangan Green Certificate dan Orkestrasi 5 Entitas
Inalum baru meluncurkan green certificate dengan emisi di bawah 4 ton CO2 per ton aluminium. Emisi Inalum tercatat 2,99 ton, biasanya 2,8 ton. Kenaikan karena muka air Danau Toba surut sehingga harus beli 10-15 persen listrik dari PLN. Jika muka air normal 903,5-904 mdpl, emisi kembali ke 2,8 ton dan digemari Eropa, Jepang, Korea.
"Di luar, produk green Inalum sangat dihargai, diberi harga premium. Minggu lalu di LME Week kita memperoleh komitmen ekspor 6.000 ton," katanya.
Di dalam negeri tantangannya PPN 11 persen untuk produk Inalum, sementara impor nol. Inalum kompensasi dengan layanan just in time seperti untuk pabrik velg premium di Pasuruan yang kini full pakai Inalum.
Tantangan terbesar Mempawah adalah listrik dan orkestrasi 5 entitas BUMN. Listrik Timur Tengah 2-3 sen dolar per kWh, PLN Rp 997 atau 6 sen dolar. Hilirisasi melibatkan Antam (bauksit), Sinergi Mitra Lestari (angkutan), BAI (Antam-Inalum 40:60) untuk alumina, JV baru untuk smelter, Bukit Asam untuk PLTU, plus Pelindo untuk pelabuhan.
"Semua entitas ini harus diorkestrasi tidak boleh ada yang rugi. Kalau BUMN ada ketentuan IRR harus minimal WACC plus 3," tegas Arief.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!