INALUM Kejar Aluminium Hijau, Incar Listrik Asahan 1 & 3 di 2029
Selasa, 27 Okt 2026, 11:08 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengejar dua agenda besar sekaligus untuk hilirisasi aluminium. Pertama mengamankan listrik hijau untuk smelter Kuala Tanjung dan mengakselerasi proyek integrasi di Mempawah, Kalimantan Barat.
Untuk smelter Kuala Tanjung, Inalum menargetkan tambahan pasokan listrik hijau dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Asahan 1 dan Asahan 3 pada 2029.
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arief Haendra, menjelaskan di sepanjang Sungai Asahan terdapat rangkaian PLTA: Asahan 1, Asahan 2 (termasuk Sibura-bura dan Tangga), serta Asahan 3. Asahan 1 dan 3 masing-masing berkapasitas 180 MW dan saat ini masuk sistem PLN.
"Asahan 1 dan Asahan 3 ini untuk PLN, masing-masing 180 MW. Di RUPTL yang baru, PLN mengizinkan untuk menggunakan PLTA Asahan 1 dan 3 itu untuk smelter," ujar Arief dalam media gathering, Senin malam (26/10).
Langkah ini penting untuk mengejar sertifikasi green. Syarat aluminium hijau harus Scope 1, listrik langsung dari sumber terbarukan, bukan lewat grid campuran yang masuk Scope 3.
"Kenapa harus masuk ke situ? Karena syarat supaya green itu tidak bisa mengambil dari grid," jelasnya.
Tantangannya, jika 360 MW itu dialihkan ke Inalum, listrik Sumatera Utara berpotensi defisit dan harus ditopang dari Sumatera Selatan. Penopangnya masih menunggu jaringan transmisi 500 kV.
"Memang problemnya, kalau itu dikeluarkan, diambil oleh Inalum, maka listrik Sumatera Utara akan kurang. Harus disuplai dari Sumatera Selatan. Sumatera Selatan ini menunggu jaringan 500 kV masuk," katanya.
Inalum berharap jaringan itu tersambung 2029, lebih cepat dari perkiraan awal 2031-2032.
"Ini yang kita tunggu. Tidak 2031 atau 2032, kita harapkan 2029 sudah tersambung," ujar Arief.
Hitungan Nilai Tambah: Bauksit Rp 40 Jadi Aluminium Rp 3.200
Ambisi green sejalan dengan hitung-hitungan hilirisasi yang dipaparkan Arief. Indonesia dulu hanya melirik bauksit kadar 70-80 persen di Bintan era 70-80an. Kadar 40-50 persen di Kalimantan dianggap tidak efisien. Sekarang cadangan 3 miliar ton di Kalbar dengan kadar 40-50 persen itu menjadi andalan.
Dengan rasio 3 ton bauksit menjadi 1 ton alumina, 3 miliar ton bauksit akan jadi 1 miliar ton alumina. Rasio tidak 1 banding 2 karena masih ada 6-8 persen alumina yang terbuang di red mud.
Dari sisi harga, bauksit 40 dolar AS per ton menjadi alumina sekitar 400 dolar AS, naik 10 kali lipat. Dengan biaya proses 250-300 dolar, margin sekitar 100 dolar. Margin tipis karena red mud berstatus B3 dan biaya pengolahannya besar.
Jika 1 miliar ton alumina jadi 500 juta ton aluminium, sementara izin smelter sudah 10 juta ton, maka 50 tahun cadangan bisa habis.
Rantai berikutnya, alumina 400 dolar menjadi aluminium 3.200-3.500 dolar AS, naik 9 kali lipat. Nilai tambah itu kembali lewat pajak, ekonomi sirkular, dan tenaga kerja.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!