IHSG Hari Ini Tertekan, Bayang-Bayang The Fed Kian Menguat
Senin, 26 Okt 2026, 17:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A.
JAKARTA – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencerminkan sikap hati-hati investor yang cenderung menahan transaksi sambil mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Ketidakpastian mengenai suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan dolar, arus modal asing, dan daya tarik aset berisiko di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Kondisi ini membuat pergerakan IHSG rentan terhadap perubahan sentimen global, sementara kepastian arah kebijakan moneter menjadi faktor penting bagi pemulihan kepercayaan investor dan stabilitas pasar saham domestik.
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (26/10) sore, ditutup melemah 66,17 poin atau 1,22 persen ke posisi 5.373,09 di tengah pelaku pasar bersikap wait and see terhadap kebijakan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed.
Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 4,89 poin atau 0,89 persen ke posisi 542,16.
"Mengawali pekan ini, IHSG dan Bursa Asia bergerak melemah di tengah kekhawatiran atas inflasi dan harga minyak yang tinggi menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta.
Dari mancanegara, Nico mengatakan meningkatnya ketegangan geopolitik dan harga minyak mentah yang di atas level 110 dolar AS per barel membebani sentimen risiko, bersamaan dengan kekhawatiran atas inflasi yang terus berlanjut dan prospek kebijakan moneter.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempertimbangkan untuk mengejar kesepakatan dengan Iran atau melanjutkan serangan militer setelah pemilihan paruh waktu pada pekan depan, di tengah meningkatnya ancaman terhadap warga AS di seluruh wilayah tersebut.
Teheran dilaporkan bersiap untuk membalas, yang berpotensi menargetkan Israel dan Uni Emirat Arab.
"Konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi naik tajam pada tahun ini, memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi, yang cenderung menekan aset berisiko," ujar Nico.
Sementara itu, pelaku pasar bersikap wait and see terhadap pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28-29 Oktober 2026 pekan ini, yang mana The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Di sisi lain, pelaku pasar menantikan Sidang Pleno Kelima Partai Komunis China, yang berakhir pada tanggal 26-27 Oktober 2026, untuk mendapatkan panduan lebih lanjut mengenai prioritas ekonomi dan arah kebijakan.
Pelaku pasar menantikan sinyal-sinyal mengenai arah kebijakan dan kepemimpinan China di masa depan dari hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan para pemimpin senior lainnya memulai pertemuan penting Partai Komunis di Beijing pada Senin.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan kekhawatiran fiskal muncul kembali di tengah harga minyak yang lebih tinggi, mengingat status Indonesia sebagai importir minyak tentunya beban APBN akan meningkat seiring kenaikan harga minyak dunia seiring meningkatnya beban subsidi energi.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor energi turun paling dalam minus 2,38 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor industri yang masing-masing turun sebesar 1,63 persen dan 1,60 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!