Mobil Hybrid dan REEV Bakal Bebas Ganjil-Genap hingga Parkir Khusus, Menperin Sarmuji Siapkan Insentif Nonfiskal
📅 Rabu, 21 Okt 2026, 17:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menjanjikan berbagai kemudahan dan keringanan bagi mobil hybrid, plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), dan range extended electric vehicle (REEV). Mulai dari bebas aturan ganjil-genap, kemudahan administrasi, hingga fasilitas parkir khusus.
Insentif nonfiskal itu disiapkan untuk mempercepat pengembangan industri otomotif nasional sekaligus menghemat konsumsi BBM bersubsidi.
"Nonfiskal itu misalkan administrasi, di kota-kota bisa dipakai, ganjil genap tidak terkena, ada parkir khusus. Mungkin juga kalau yang masih perlu charger, ada fasilitas charger dan sebagainya," ujar Sarmuji seusai pertemuan dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) di Jakarta, Rabu (21/10).
Selama ini, insentif serupa baru dinikmati mobil listrik murni berbasis baterai (BEV). Sementara hybrid, PHEV, dan REEV belum punya skema insentif khusus.
"Kalau full battery selama ini sudah ada insentif yang memadai, baik berkaitan dengan administrasi maupun ganjil genap. Sementara yang plug-in hybrid dan REEV itu akan dirumuskan (penambahan) insentifnya," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Sarmuji, ketiga teknologi itu sangat strategis. Selain lebih irit BBM, juga menekan emisi tanpa sepenuhnya bergantung pada infrastruktur charging.
"Dengan memproduksi dan memasarkan secara lebih masif dua jenis kendaraan itu, akan berdampak pada penghematan BBM kita, khususnya BBM bersubsidi. Di samping juga pasti akan berakibat pada menurunnya emisi," tuturnya.
Dari sisi industri, hybrid dan REEV dinilai lebih adaptif karena masih memakai mesin pembakaran internal (ICE), sehingga industri komponen lokal tidak perlu berubah total.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Komponen-komponen yang sekarang diproduksi tidak perlu berubah secara total. Menyesuaikan dirinya masih lebih mudah," ujarnya.
Selain nonfiskal, Kemenperin juga mengkaji insentif fiskal berupa keringanan pajak, namun besarannya tidak harus sama dengan BEV.
"Keringanan pajaknya tidak harus sama. Yang penting ada insentif sehingga industri juga tumbuh. Karena manfaatnya juga sama-sama dirasakan, baik untuk masyarakat maupun negara," jelasnya.
Sarmuji menargetkan pembahasan insentif dipercepat tahun ini, memanfaatkan momentum kenaikan harga BBM.
"Insentif akan kita dorong secepatnya. Mumpung ada momentum harga BBM lagi naik, ini momentum untuk memperkuat industri berbasis baterai, tetapi dengan berbagai jenis tadi. Ini target diusahakan tahun ini," tegasnya.
Dukungan datang dari Ketua Umum GAIKINDO Putu Juli Ardika. Ia berharap kebijakan inklusif ini menjaga pertumbuhan industri dan ekosistemnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!