Waspadai Pengeroposan Tulang, Terapkan Kebiasaan Sehat Ini Sejak Dini
📅 Selasa, 20 Okt 2026, 17:23 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: RSPI
JAKARTA — Osteoporosis merupakan kondisi ketika kepadatan tulang menurun sehingga menjadi rapuh dan lebih mudah patah. Meski kerap dikaitkan dengan proses penuaan, upaya menjaga kesehatan tulang perlu dimulai sejak usia muda melalui pola makan bergizi, olahraga teratur, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko pengeroposan tulang.
Dokter Spesialis Ortopedi RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Rizky Priambodo Wisnubaroto, Sp.OT, CF-Sports Injury, AIFO-K, menjelaskan bahwa osteoporosis terjadi akibat ketidakseimbangan proses pembentukan dan penyerapan tulang yang menyebabkan massa serta kekuatan tulang menurun drastis.
“Dalam proses normal, tubuh terus membentuk dan menyerap jaringan tulang. Osteoporosis dapat terjadi ketika aktivitas osteoblas—sel pembentuk tulang—menurun, sementara aktivitas osteoklas—sel yang menyerap tulang—meningkat. Akibatnya, struktur tulang menjadi lebih rapuh dan rentan mengalami patah tulang,” ujarnya.
Osteoporosis dapat memengaruhi berbagai bagian kerangka tubuh, terutama tulang belakang, panggul, dan area tertentu pada tulang panjang. Pada penderita osteoporosis, benturan ringan atau jatuh dari posisi berdiri pun dapat menyebabkan patah tulang. Risiko tersebut menjadi perhatian khusus pada kelompok lanjut usia karena cedera dapat membatasi mobilitas dan menurunkan kualitas hidup secara signifikan.
Perempuan Pascamenopause Lebih Berisiko
Risiko osteoporosis dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari usia, perubahan hormon, asupan nutrisi, hingga gaya hidup. Perempuan berusia di atas 50 tahun termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami pengeroposan tulang, terutama setelah memasuki masa menopause.
Penurunan hormon estrogen setelah menopause berperan besar dalam meningkatkan kehilangan massa tulang, mengingat hormon ini berfungsi menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penyerapan tulang. Selain faktor hormonal, kekurangan kalsium, gangguan makan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta konsumsi alkohol dan kafein secara berlebihan juga menjadi pemicu utama. Kondisi medis tertentu, termasuk gangguan sistem endokrin, turut memengaruhi kesehatan tulang secara keseluruhan.
Pemeriksaan Kepadatan Tulang untuk Deteksi Dini
dr. Rizky menuturkan bahwa osteoporosis sering kali berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas pada tahap awal (silent disease). Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan tulang menjadi sangat penting, terutama bagi individu yang memiliki faktor risiko.
Salah satu metode utama untuk menilai kepadatan mineral tulang adalah dual-energy X-ray absorptiometry (DXA). Pemeriksaan ini menggunakan sinar-X dosis rendah untuk mengukur kepadatan tulang, umumnya pada area tulang belakang dan panggul, yang hasilnya dibandingkan dengan nilai acuan standar.
Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan laboratorium tambahan untuk mengevaluasi kadar kalsium, fosfor, dan alkaline phosphatase, serta parameter metabolisme mineral sesuai kebutuhan klinis pasien. Dengan deteksi lebih awal, risiko patah tulang dapat dikelola melalui perubahan gaya hidup maupun pengobatan medis.
Kalsium, Vitamin D, dan Olahraga untuk Menjaga Tulang
Pencegahan osteoporosis idealnya dimulai sejak usia 20-an, ketika seseorang berada dalam masa puncak pembentukan massa tulang untuk investasi di usia lanjut. Langkah utamanya adalah memenuhi kebutuhan kalsium melalui konsumsi susu, keju, yogurt, serta sayuran hijau.
Asupan vitamin D juga krusial untuk membantu penyerapan kalsium di dalam tubuh. Vitamin D dapat diperoleh dari makanan seperti ikan berlemak maupun melalui pembentukan alami di kulit saat terpapar sinar matahari pagi secara bijak.
Selain nutrisi, olahraga teratur membantu menjaga kekuatan tulang dan otot. Aktivitas menahan beban tubuh (weight-bearing exercise) seperti berjalan kaki, serta latihan kekuatan (strength training) sangat dianjurkan untuk mendukung kepadatan tulang. Sementara itu, kebiasaan merokok, alkohol, dan kafein berlebihan wajib dihindari.
Pengobatan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Pencegahan patah tulang merupakan sasaran utama dalam penanganan osteoporosis. Selain perubahan gaya hidup, pasien yang telah terdiagnosis membutuhkan terapi medis untuk mengurangi risiko kehilangan massa tulang lanjutan.
Pilihan pengobatan ditentukan berdasarkan tingkat risiko, hasil pemeriksaan, usia, dan kondisi kesehatan pasien. Pada kasus tertentu, terapi hormon atau obat khusus osteoporosis dapat dipertimbangkan sesuai indikasi medis, di mana suplementasi kalsium dan vitamin D diberikan sebagai penunjang terapi utama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!