Kisah Sukses UMKM Indonesia: Modal Iklan Ratusan Ribu, Raih Omzet Jutaan dari Malaysia
📅 Selasa, 20 Okt 2026, 16:35 WIB | Oleh: Haryo BronoTANGERANG — Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan iklan digital mulai membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia untuk menjangkau pasar internasional. Salah satu peserta program pendampingan Gapai Pasar Global dengan AI, Zayya, berhasil membukukan penjualan Rp1,14 juta dari Malaysia setelah mengeluarkan biaya iklan Rp150.000 selama lima hari, atau setara 7,6 kali nilai investasi iklannya.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu hasil program kolaborasi Meta di Indonesia, Kementerian Perdagangan, dan UKMIndonesia.id yang menutup rangkaian pendampingan di Trade Expo Indonesia 2026, Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten yang berlangsung 14–18 Oktober 2026. Program ini telah melatih 200 UMKM di Bandung, Batam, dan Jakarta untuk memanfaatkan teknologi AI serta solusi bisnis digital Meta dalam memperluas jangkauan pasar hingga ke luar negeri.
Program tersebut menyasar UMKM yang memiliki produk siap ekspor. Melalui pelatihan, pendampingan, dan praktik langsung, para peserta dibekali keterampilan untuk menemukan calon pembeli, membangun komunikasi dengan konsumen di negara tujuan, serta mengoptimalkan pemasaran digital. Upaya ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha mengatasi salah satu kendala dalam ekspor, yakni keterbatasan akses terhadap calon pembeli di pasar internasional.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan daya saing UMKM. Menurut dia, pelaku usaha perlu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk AI, agar dapat memanfaatkan peluang perdagangan yang semakin terbuka.
“Sekarang era digital, kita harus bisa memanfaatkan AI dengan baik. Dan terima kasih kepada Meta yang sudah memfasilitasi ini. Sekarang eranya discovery commerce, jadi produk ataupun konsumen yang akan mencari,” ujar Budi dalam acara Trade Expo Indonesia 2026.
Sebaiknya Anda baca juga:
Direktur Kebijakan Publik Meta untuk Asia Tenggara Sarim Aziz mengatakan AI dapat membantu UMKM bekerja lebih efisien, memahami pasar, dan mengalokasikan sumber daya pemasaran secara lebih tepat. Dengan dukungan teknologi yang sesuai, pelaku usaha dapat menjangkau calon pelanggan baru tanpa harus mengeluarkan biaya pemasaran dalam jumlah besar.
“Bagi UMKM, AI bisa mulai menjadi cara untuk bekerja lebih efisien, memahami pasar, dan mengalokasikan sumber daya dengan lebih tepat. Ketika teknologi ini dipadukan dengan solusi bisnis yang tepat, bahkan investasi yang relatif kecil dapat membuka akses ke pelanggan baru di pasar global,” kata Sarim.
Selain Zayya, dua peserta lain juga mencatat hasil dari pemanfaatan iklan digital dan perangkat berbasis AI. Obudjamoe, usaha jamu asal Batam, memperoleh pesanan pertamanya dari Malaysia setelah mengeluarkan biaya iklan Rp135.000 selama tujuh hari. Pesanan tersebut mencakup 60 pouch jahe instan dengan nilai transaksi sekitar Rp3 juta. Menurut keterangan program, transaksi itu turut meningkatkan penjualan usaha tersebut sekitar 50 persen dibandingkan biasanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Ayubifood, bisnis makanan ringan berupa artisanal pasta snack asal Jakarta, memanfaatkan Advantage+ dan Meta Business Agent untuk menjangkau distributor produk halal di Malaysia. Penggunaan teknologi tersebut dilaporkan menurunkan biaya per percakapan hingga 85 persen dan memangkas waktu respons pelanggan dari dua hingga tiga jam menjadi kurang dari lima menit. Upaya itu juga menghasilkan penjualan dari pasar Malaysia.
Dalam program pendampingan tersebut, peserta mempelajari penggunaan Advantage+ untuk membantu mengoptimalkan penayangan iklan serta Meta Business Agent untuk mendukung komunikasi dengan calon pelanggan. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu UMKM meningkatkan peluang produknya ditemukan konsumen sekaligus mempercepat tindak lanjut terhadap pertanyaan dan permintaan pembelian.
Kebutuhan terhadap keterampilan tersebut sejalan dengan temuan riset YouGov bersama Meta. Survei daring terhadap 3.983 pemilik UMKM di sembilan pasar, termasuk Indonesia, yang dilakukan pada 6 Agustus hingga 2 September 2026, menunjukkan bahwa 86 persen pemilik usaha kecil di Indonesia menyatakan bisnis mereka telah menggunakan AI. Sebanyak 85 persen dari kelompok tersebut melaporkan dampak positif AI terhadap produktivitas dalam 12 bulan terakhir.
Meski demikian, adopsi teknologi belum sepenuhnya diikuti pemahaman yang memadai. Sebanyak 91 persen responden menyatakan UMKM masih membutuhkan panduan untuk memperoleh manfaat maksimal dari AI. Selain itu, 98 persen pemilik usaha kecil berencana memanfaatkan AI untuk pemasaran dan pembuatan konten dalam 12 bulan mendatang, sedangkan 52 persen menilai pelatihan di bidang tersebut akan bermanfaat bagi bisnis mereka.
Riset yang sama juga menemukan bahwa 59 persen pemilik UMKM yang bisnisnya menggunakan AI telah memanfaatkannya untuk membuat atau mengedit konten. Sementara itu, 39 persen menggunakan teknologi tersebut untuk menganalisis informasi bisnis atau pelanggan. Adapun 47 persen responden menyebut biaya sebagai salah satu hambatan untuk mengikuti pelatihan AI, yang menunjukkan perlunya akses pembelajaran yang lebih terjangkau bagi pelaku usaha.
Sebagai penutup program, Meta dan Kementerian Perdagangan menyerahkan National Export-Ready Catalogue yang berisi profil dan produk unggulan peserta yang dinilai siap menjangkau pasar ekspor. Katalog tersebut diharapkan dapat membantu memperkenalkan produk UMKM kepada calon mitra dan pembeli internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!