Alumni Notre Dame Merajut Silaturahmi, Merawat Hubungan Baik
📅 Minggu, 18 Okt 2026, 09:28 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA — Waktu boleh berlalu, kehidupan boleh membawa setiap orang ke jalan yang berbeda, tetapi persahabatan sejati selalu memiliki cara untuk mempertemukan kembali orang-orang yang pernah tumbuh bersama.
Semangat itulah yang mewarnai reuni alumni Notre Dame angkatan 1990–1996 pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026, di Din Tai Fung, Puri Indah Mall, Jakarta Barat. Setelah lebih dari 30 tahun perjalanan persahabatan, para alumni berkumpul untuk mengenang masa kecil, berbagi cerita, memperbarui kabar, dan mempererat tali silaturahmi.
Pertemuan ini semakin istimewa dengan kehadiran wali kelas 6A, Bapak Bambang, dan wali kelas 6B, Ibu Bernadette, beserta pasangan masing-masing. Kehadiran mereka menjadi bentuk penghormatan kepada para guru yang pernah membimbing dan memberikan warna dalam perjalanan hidup para alumni.
Kisah Perjalanan Hidup
Suasana reuni dipenuhi tawa, keharuan, dan nostalgia. Kenangan tentang masa sekolah, nilai ujian, guru yang galak, hingga berbagai pengalaman masa kecil kembali menjadi bahan cerita yang mengundang senyum.
Ian dan Ivan, saudara kembar, mengungkapkan rasa syukur atas solidnya persahabatan alumni Notre Dame yang tetap terjaga hingga kini.
Hadir pula Putu Mahardika, yang kini sukses menekuni usaha kontraktor interior, serta Bapak Julius Lauw, pengusaha di bidang makanan dan sirene.
Elizabeth Maria, yang dikenal sebagai Cici Properti, turut berbagi kabar tentang kehidupannya dan kegemarannya berolahraga padel serta pilates.
Sementara itu, Dokter Rendy rela menempuh perjalanan jauh dari Cileungsi demi menghadiri pertemuan yang berharga ini.
Ada pula Bapak Vicky, sosok yang dikenal teman-temannya tidak banyak berubah sejak masa sekolah. Kecintaannya terhadap anime dan lagu Uchuu Keiji Gavan era 1990-an masih melekat hingga sekarang. Berkat daya ingatnya yang luar biasa, ia mendapat julukan “Intel” dari teman-temannya.
Setiap orang membawa cerita dan perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang membangun usaha, berkarier secara profesional, dan menekuni bidang masing-masing. Namun, ketika kembali berkumpul, semua pencapaian tersebut berpadu dalam kebahagiaan sederhana: bertemu kembali sebagai teman lama.
Momen istimewa lainnya adalah panggilan video dengan Gilbert, yang sedang berada di Singapura.
Semasa sekolah, Gilbert dikenal sebagai sosok yang sangar dan disegani. Kini, ia dipandang telah berkembang menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan penyayang. Kisahnya menjadi pengingat bahwa manusia terus bertumbuh dan berubah seiring perjalanan hidup.
Para alumni juga tetap terhubung dengan Bro Navin, yang kebetulan berada di Kalimantan dan kini berkarier di sebuah bank swasta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!