Komputasi Kuantum, Apalagi Itu? Cermati Potensi Ancaman atas Data Digital
📅 Jumat, 16 Okt 2026, 11:50 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA – Data kita terus diancam berbagai cara, terakhir melalui kuantum data. Ap aitu kuantum data? Pemerintah mengantisipasi ancaman perkembangan komputasi kuantum terhadap keamanan data digital melalui kesiapan teknologi kriptografi pascakuantum atau post-quantum cryptography (PQC).
Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ali Murtopo Simbolon menilai langkah itu diperlukan guna menjaga perlindungan data digital seiring meningkatnya aktivitas ekonomi pada ranah layanan digital.
"Mewakili Bapak Menko Perekonomian, saya menyambut baik Workshop on Quantum and Post-Quantum Cryptography sebagai momentum strategis untuk memperkuat ketahanan keamanan siber nasional, sekaligus mempersiapkan Indonesia memanfaatkan ruang ekonomi dan inovasi yang lahir dari perkembangan teknologi kuantum," ujar Ali dalam lokakarya bertema Strategizing Indonesia's Digital Defense in the Quantum Era, dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Jumat.
Salah satu risiko yang perlu diantisipasi adalah Harvest Now, Decrypt Later (HNDL). Praktik ini dilakukan dengan mengumpulkan data terenkripsi saat ini untuk kemudian mencoba membukanya ketika kemampuan teknologi sudah memadai. Risiko tersebut membuat persiapan keamanan data perlu dilakukan sejak dini.
Ali menjelaskan pemerintah dan pelaku industri perlu memetakan sistem serta informasi yang membutuhkan perlindungan agar dapat menyiapkan langkah pengamanan sebelum kemampuan komputasi kuantum berpotensi mengancam sistem kriptografi yang digunakan saat ini. Penerapan PQC tak hanya berkaitan dengan penggantian algoritma kriptografi.
Persiapan tersebut juga memerlukan perencanaan yang matang, pemetaan sistem dan data, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta koordinasi lintas sektor. Upaya tersebut menjadi penting seiring besarnya aktivitas ekonomi digital Indonesia.
Ia menyampaikan bahwa nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia mendekati 100 miliar dolar AS pada 2025 atau meningkat 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilainya diproyeksikan mencapai 340 miliar dolar AS pada 2030.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi pembayaran digital mencapai 12,99 miliar pada triwulan III 2025. Jumlah tersebut tumbuh 38,08 persen secara tahunan.
Menurut Ali, keamanan siber merupakan salah satu fondasi untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital sekaligus mendukung pemanfaatan teknologi baru.
Penguatan keamanan siber juga menjadi bagian dari Buku Putih Strategi Nasional Pengembangan Ekonomi Digital.
Ia menekankan pentingnya membangun kemandirian teknologi nasional agar Indonesia tidak hanya mengandalkan kolaborasi internasional dalam pengembangan keamanan siber.
"Boleh kita belajar dari mereka yang sudah duluan, tapi kita juga harus punya kemandirian dalam menyiapkan platform teknologi cyber security kita," ujar Ali.
Selain memperkuat keamanan siber, Indonesia juga mendorong kolaborasi internasional dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) bersama mitra dari berbagai kawasan termasuk Amerika Serikat (AS) dan China.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan teknologi dan meningkatkan kapasitas inovasi nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!