Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jadi Tempat Curhat Teman? Psikolog Ingatkan Pentingnya Batasan Diri

📅 Minggu, 11 Okt 2026, 02:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Jadi Tempat Curhat Teman? Psikolog Ingatkan Pentingnya Batasan Diri Doc: Antara
Ket. Ilustrasi - Warga melakukan konsultasi bersama psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/5).

Jakarta - Psikolog klinis anak dan remaja Ocha Ananda Suherik, M.Psi., Psikolog, mengatakan menjadi tempat berkeluh kesah bagi orang lain merupakan bentuk kepedulian yang penting. Namun, seseorang juga perlu memahami batas kemampuan diri agar tetap dapat membantu tanpa mengorbankan kesehatan emosionalnya.

“Self-boundaries (batasan diri) membantu kita untuk mengenali batas kemampuan, waktu, energi emosional, dan tanggung jawab kita ketika mendukung orang lain,” ujar Ocha di Jakarta, Sabtu (10/10).

Psikolog yang tergabung dalam Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) itu menjelaskan bahwa memahami batasan diri dapat dimulai dengan mengenali batas peran. Sebagai teman atau anggota keluarga, seseorang dapat memberikan dukungan emosional tanpa harus mengambil alih peran psikolog atau psikiater.

Selain itu, seseorang perlu mengenali kapasitas emosionalnya sebelum membantu orang lain. Jika energi dan kondisi emosional belum memadai atau masalah yang disampaikan terlalu berat, batasan perlu dikomunikasikan secara jelas dan empatik.

“Jika ternyata di momen tersebut energi dan emosi belum cukup memadai, atau isu yang disampaikan terlalu berat, komunikasikan batasan secara jelas dan empatik. Dapat pula menawarkan bantuan yang masih sesuai dengan kapasitas diri kita,” ujar dia.

Ocha juga menjelaskan bahwa ketika seseorang mulai terbuka mengenai masalah yang dihadapinya, pendengar perlu menyadari bahwa bercerita bukanlah hal yang selalu mudah.

“Bisa jadi, orang tersebut sudah mempertimbangkan cukup lama sebelum akhirnya memutuskan untuk berbagi,” tuturnya.

Karena itu, pendengar disarankan untuk menyimak cerita tanpa menghakimi dan tidak terburu-buru memberikan solusi. Berikan kesempatan kepada orang tersebut untuk menyampaikan pengalaman sesuai dengan kesiapan dan kecepatannya sendiri.

Langkah berikutnya adalah memberikan validasi emosi, yakni mengakui bahwa perasaan seseorang nyata dan layak dipahami berdasarkan pengalaman yang sedang dihadapinya.

“Perlu dibedakan bahwa memvalidasi emosi bukan berarti selalu membenarkan seluruh pemikiran atau perilaku seseorang,” kata psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Sebagai contoh, seseorang dapat memahami kemarahan yang dirasakan orang lain tanpa membenarkan tindakan menyakiti orang lain akibat emosi tersebut. Dengan demikian, empati tetap dapat ditunjukkan tanpa mengabaikan batasan yang sehat.

Ocha juga menyarankan agar pendengar menanyakan bentuk bantuan yang dibutuhkan, menghindari sikap membandingkan atau mengecilkan masalah, serta menjaga kepercayaan dan privasi orang yang bercerita.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
  • Sangat Memprihatinkan Rumah Dinas TNI untuk Judol, Pelaku Kini Ditahan
    oknum2 begini ini yg bikin citra loreng jadi ...
  • Bahlil Pasang Rem Industri Nikel, Smelter Setengah Jadi Bisa Dimoratorium
    Langkah moratorium smelter setengah jadi ini memang sudah ...
Advertisement
Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

Saldo Tabungan Masyarakat Menyusut, Fenomena “Mantab” Jadi Sorotan

10 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.