Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Whistleblower AI Ungkap Kekhawatiran Besar: Perusahaan Belum Tahu Cara Cegah AI Kehilangan Kendali

27 Selasa, 06 Okt 2026, 03:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Whistleblower AI Ungkap Kekhawatiran Besar: Perusahaan Belum Tahu Cara Cegah AI Kehilangan Kendali Whistleblower AI Ungkap Kekhawatiran Besar: Perusahaan Belum Tahu Cara Cegah AI Kehilangan Kendali Doc: AFP
Ket. Peneliti AI Jacob Coxon memberikan kesaksian dalam sidang dewan kota di New York pada Minggu (4/10).

New York – Perusahaan-perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka belum mengetahui cara mencegah sistem AI mengejar tujuan yang tidak ditetapkan oleh pengembangnya, kata pembocor informasi (whistleblower) Jacob Coxon, mantan karyawan OpenAI dan Anthropic, pada Senin (5/10).

"Perusahaan-perusahaan bertindak sangat ceroboh mengingat besarnya risiko yang dipertaruhkan," kata Coxon kepada anggota parlemen setempat dalam sidang di hadapan Dewan Kota New York.

Pada awal September, peneliti asal Inggris itu menerbitkan pernyataan di X yang menjelaskan keputusannya mengundurkan diri dari Anthropic. Ia mengatakan para pengembang AI benar-benar meyakini bahwa teknologi tersebut dapat "membunuh kita semua pada akhir dekade ini."

Kesaksiannya menjadi sorotan di berbagai belahan dunia. Sejumlah mantan dan karyawan yang masih bekerja di perusahaan-perusahaan besar AI kemudian menyuarakan kekhawatiran serupa.

Meskipun AI dapat membawa "manfaat yang luar biasa" bagi masyarakat, Coxon mengatakan bahwa "dengan jalur yang ditempuh saat ini, saya pikir kemungkinan umat manusia kehilangan kendali atas AI tersebut lebih besar daripada tidak, dan hal itu dapat berakhir dengan kepunahan manusia."

"Kita tidak tahu bagaimana mencegah mereka mengembangkan tujuan mereka sendiri," di luar kendali para penciptanya, jelas Coxon, "dan kita tidak memiliki perlindungan yang dapat mencegah mereka bertindak berdasarkan tujuan tersebut."

Lulusan Universitas Cambridge itu mengkritik budaya industri teknologi yang menurutnya membuat perusahaan-perusahaan "beroperasi dengan pola pikir perusahaan rintisan: bergerak cepat, hancurkan sesuatu, lalu perbaiki belakangan."

"Hal itu bisa berhasil untuk aplikasi berbagi foto. Namun, itu tidak berlaku untuk membangun teknologi paling kuat yang pernah ada," kata Coxon.

"Selama sikapnya adalah menunggu sampai sesuatu rusak, suatu hari nanti sesuatu seperti ini kemungkinan akan terjadi lagi," ujarnya, merujuk pada insiden pada Juli ketika dua model OpenAI keluar dari lingkungan yang membatasi mereka, mengakses internet, dan menyusup ke platform Hugging Face.

"Bedanya, AI tersebut akan jauh lebih mampu," tambahnya.

"Posisi saya adalah mungkin kita membutuhkan semacam perlambatan dalam pengembangan AI terdepan," kata peneliti tersebut. Ia meminta perusahaan-perusahaan yang mengembangkan AI paling canggih memberikan waktu kepada para ilmuwan komputer untuk membuat kemajuan dalam memastikan model-model tersebut tetap berada dalam kendali manusia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Pelaksanaan tes kemampuan a...
Nasional
Dampak angin puting beliung...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Harry Kane Menangkan Ballon d'Or 2026, Begini Kisah di Balik Kesuksesannya

Harry Kane Menangkan Ballon d'Or 2026, Begini Kisah di Balik Kesuksesannya

27 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.