Biaya Pinjaman Makin Mahal, Konsolidasi Fiskal Jangan Terus Mengandalkan Utang
📅 Selasa, 29 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim RedaksiSemakin Sempit
Sementara itu, peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendi Manilet, menilai tiga fungsi APBN yang disebut Wamenkeu meredam guncangan, mendukung pertumbuhan, dan menjaga kredibilitas fiskal saat ini saling berhadapan.
“APBN memang harus meredam guncangan, mendukung pertumbuhan, dan tetap kredibel. Persoalannya, ruang untuk menjalankan tiga fungsi itu sekaligus semakin sempit,” katanya.
Tantangan tersebut terlihat dari desain defisit APBN 2027 yang dirancang lebih ketat, sementara tekanan terhadap subsidi, perlindungan sosial, dan pembiayaan masih besar.
“Defisit 2027 dirancang lebih ketat, sementara tekanan terhadap subsidi, perlindungan sosial, dan biaya pembiayaan masih besar. Rupiah melemah, bunga domestik bertahan tinggi, dan harga energi sulit diprediksi,” katanya.
Ketika asumsi makro meleset, APBN harus menambah belanja atau menghadapi penerimaan yang lebih rendah. Di titik itulah fungsi peredam guncangan berhadapan langsung dengan disiplin fiskal.
Dia juga menyoroti fungsi APBN melindungi masyarakat, tetapi kuota LPG dipangkas sebelum sistem penerima tepat sasaran, akibatnya malah memindahkan beban anggaran ke rumah tangga.
“Dukungan bagi sektor produktif pun tidak cukup dalam bentuk insentif dan program baru jika kredit tetap mahal dan realisasinya lambat,” katanya.
Sebab itu, CORE mendorong Pemerintah untuk memperjelas prioritas kebijakan fiskal ke depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!