Biaya Pinjaman Makin Mahal, Konsolidasi Fiskal Jangan Terus Mengandalkan Utang
📅 Selasa, 29 Sep 2026, 03:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi» Dukungan bagi sektor produktif tidak cukup dalam bentuk insentif dan program baru jika kredit tetap mahal dan lambat terealisasi.
JAKARTA - Ketahanan fiskal semakin penting untuk menopang pertumbuhan sekaligus meredam dampak gejolak ekonomi global terhadap perekonomian domestik. Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata mengatakan untuk memperkuat ketahanan fiskal Pemerintah perlu melakukan konsolidasi fiskal tanpa terus mengandalkan utang sebagai jalan keluar dari kendala anggaran.
Menurut Aloysius, pilihan tersebut perlu dicermati ketika biaya utang semakin mahal.
“Dari sisi pengeluaran, harus ada penajaman dengan penekanan pada jenis pengeluaran yang benar-benar menghasilkan efek pengganda yang nyata, bukan yang semu dan seremonial,” kata Aloysius, Senin (28/9).
Ia meminta pemerintah meninjau ulang program-program berbiaya besar. Aloysius menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih (KMP) setidaknya perlu dimoratorium. Di sisi penerimaan, pemerintah juga harus mengatasi kebocoran perpajakan yang mencerminkan inefisiensi birokrasi.
Aloysius mengatakan kebijakan fiskal perlu berjalan terpadu dengan kebijakan moneter. Namun, sinergi itu tidak boleh menempatkan kebijakan moneter di bawah dominasi fiskal. Menurut dia, keseimbangan tersebut penting untuk menjaga kredibilitas fiskal sekaligus efektivitas kebijakan moneter.
Ia mengingatkan bahwa kredibilitas fiskal lebih rentan terhadap perubahan arah kebijakan karena berkaitan langsung dengan dinamika politik dan kepentingan jangka pendek.
Dalam Central Banking Service Festival (CB Fest) 2026, Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung mengatakan penguatan ketahanan fiskal menjadi semakin penting seiring meningkatnya risiko geopolitik, disrupsi teknologi, fragmentasi keuangan, hingga kompleksitas rantai pasok global.
Kebijakan fiskal jelasnya tetap berfungsi sebagai shock absorber sekaligus menopang pertumbuhan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) harus mampu melindungi masyarakat, mendukung aktivitas produktif, dan merespons berbagai risiko dengan tetap menjaga disiplin, kredibilitas, serta keberlanjutan fiskal.
“Strategi fiskal harus tetap adaptif, prudent, dan berorientasi pada pertumbuhan, melindungi perekonomian saat ini sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal di masa depan,” kata Juda dalam keterangan tertulis.
Selain fiskal, ketahanan sektor keuangan dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi. Sistem keuangan perlu tetap stabil dan efisien, sekaligus semakin dalam dan inklusif, agar mampu menyediakan sumber pembiayaan yang beragam dan mengarahkan modal kepada kegiatan produktif.
Juda menilai peran perbankan juga dapat terus diperluas, dari sekadar menyalurkan kredit menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas, mendukung UMKM, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan daya saing.
Begitu juga dengan transformasi digital dan kecerdasan artifisial juga perlu diiringi dengan tata kelola dan manajemen risiko yang kuat, karena efisiensi tidak serta-merta menjadi ketahanan.
“Ketahanan bukan berarti tidak adanya guncangan. Ketahanan adalah kemampuan kita untuk menyerap guncangan, beradaptasi terhadap perubahan, dan terus bergerak maju tanpa kehilangan kredibilitas dan kepercayaan publik,” kata Wamenkeu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!