BMKG: El Nino Sangat Kuat Sedang Terjadi
📅 Selasa, 22 Sep 2026, 18:12 WIB | Oleh: Ilham SudrajatJAKARTA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 akan datang lebih lambat. Sekitar 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran musim hujan dari rerata klimatologisnya.
BMKG menyatakan, hal tersebut terjadi karena dampak fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. Mundurnya musim hujan juga karena Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia yang berdampak berkurangnya curah hujan.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, pada konferensi pers ‘Prediksi Musim Hujan’ di Gedung MHEWS BMKG, di Jakarta, Selasa (22/9).
Teuku menjelaskan pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83. Dimana nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat.
Sementara itu di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun. Hal yang sama disampaikan Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.
Ia menjelaskan, awal musim hujan di Indonesia terjadi tidak bersamaan. Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada bulan November dan Desember 2026.
Cakupan wilayah yang mengalami musim hujan mulai November di antaranya sebagian Sumatra, sebagian Jawa, dan sebagian Kalimantan. Lalu sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, dan sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku.
Selain itu Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan. Kemudian musim hujan bulan Desember dialami sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan (Kalsel), dan sebagian besar Bali.
Selain itu, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, dan sebagian besar Sulawesi. Lalu sebagian Malut, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.
Jika dibandingkan rerata klimatologisnya, 529 ZOM atau 61,08% luas daratan Indonesia mengalami musim hujan mundur. Hanya 11 ZOM (1,12% luas daratan) mengalami musim hujan lebih cepat.
lalu sebanyak 26 ZOM (2,15% luas daratan) memasuki musim hujan sama dengan normalnya. “Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM (69,76% luas daratan Indonesia)," kata Ardhasena.
"Perlu menjadi perhatian bagi 147 ZOM (18,55% luas daratan Indonesia). Karena sifatnya hujannya lebih basah serta hanya 42 ZOM (11,69%) diprediksi akan bersifat bawah normal atau lebih kering,” ujar Ardhasena.
Lebih lanjut, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan mengalami puncak musim hujan 2026/2027 pada bulan Desember 2026. Yaitu sebanyak 155 ZOM (36,94% luas daratan Indonesia).
Sementara pada Januari 2027 yaitu sebanyak 162 ZOM (25,68% luas daratan Indonesia). Pada Februari 2027 yaitu sebanyak 190 ZOM (16,79% luas daratan Indonesia).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!